CERPEN: MALAM PANJANG

oleh Zaka Vikryan

Tubuh renta seorang wanita kini terbujur kaku dihadapanku, Siti Aminah namanya. Ibu Aminah, begitulah para warga memanggilnya. Seorang ibu dari empat orang putra yang kini telah pergi meninggalkan ia di desa. Animah adalah janda tua yang telah ditinggalkam seorang suami selama lebih dari 30 tahun sejak perkawinannya. Diusia renta lengkap dengan penyakit jantung yang dideritanya, ia harus berjuang sendiri setiap hari untuk mencari sesuap nasi demi mempertahankan hidup dan menjalani kodratnya sebagai manusia. Namun kini, setelah usianya menginjak genap pada angka 90, tubuhnya tak bisa lagi diajak kompromi. Penyakit jantung dan penyakit-penyakit lainnya kini memaksa ia untuk menghabiskan hari-hari di atas kasur tua hadiah perkawinan dengan almarhum suaminya.

Siapa yang tak mengenal ia, Siti Animah namanya. Biasanya setelah jam anak sekolah masuk kelas, ia mulai melangsungkan aktivitasnya; membawa ceceting dan sapu nyere ia menempuh jarak yang cukup jauh untuk menuju sebuah pabrik penggilingan beras. Ia bukanlah karyawan pabrik, Siti Aminah akan mulai bekerja di pabrik setelah ada warga yang menggiling gabah di sana. Ya, Siti Aminah adalah seorang pemulung gabah dan beras yang tanpa sengaja suka berjatuhan di bawah mesin-mesin penggilingan. Dengan telaten, sedikit demi sedikit, beras yang tidak lagi di pandang oleh karyawan-karyawan pabrik, ia sapu ke arah yang agak sedikit leluasa untuk jongkok dan memungutinya.

Aktivitasnya sebagai pemulung ia lakoni sejak tahun ke tujuh kematian suaminya. Tuntutan akan kebutuhan hidup yang tak berbanding lurus dengan pendapatan rumah tangganya memaksa ia untuk menjual sedikit demi sedikti harta warisan yang ditinggalkan suaminya, sawah, kebun, dan beberapa ekor kambing. Pada tahun pertama sepeninggal suaminya, ia kalut bukan kepalang, putra-putranya yang telah tinggal berumah-tangga di kota tak sanggup berbuat banyak untuk mengatasi masalah yang ia pikul. Harta warisan telah ludes, sementara usia terus saja bertambah, di sisi lain urusan perut bukanlah urusan yang mudah untuk dikesampingkan begitu saja.

Sebenarnya sebelum ia menjadi seorang pemungut gabah dan beras di pabrik, ia pernah menjadi binatu keliling untuk warga sekitar; mencuci baju, membereskan rumah, atau sekedar membantu memasak adalah sumber uang baginya ketika tahun kedua statusnya sebagai seorang janda sebelum ia memutuskan untuk beraktivitas di pabrik penggilingan beras. Penghasilan menjadi binatu memang lebih baik ketimbang uang hasil jual gabah dan beras pungut di pabrik. Namun, tubuh yang tak sanggup lagi naik turun bukit untuk mencuci pakaian dan tangan yang tak pandai lagi mengolah bumbu masakanlah yang memaksa ia meninggalkan rutinitas kebinatuannya itu.

Izin yang sudah Siti Aminah kantongi dari pemilik pabrik lebih memudahkan ia bersosialisasi dengan para karyawan di sana. Selain itu, pemilik pabrik yang juga merupakan kepala desa di tempatnya tinggal secara berkala suka memberikan bantuan berupa makanan dan beberapa helai uang kepadanya. Hal itu Aminah syukuri, sebagai pertolongan tuhan yang dipanjang-tangankan kepada Pak Kades. Ketika ia memnta izin pada Pak Kades, ia tidak langsung diberikan izin begitu saja. Pak Kades yang memperhitungkan benar antara usia dan aktivitas yang nanti akan dilakoninya itu sangat khawatir, takutnya debu dan riuhnya suasana pabrik akan mengganggu kesehatan Ibu Aminah. Namun Ibu Aminah mempunyai pandangan lain. Baginya, selagi tubuhnya masih mampu untuk bekerja maka ia akan bekerja guna membiayai kehidupannya.

Hampir sekitar 15 tahun Ibu Aminah menjalani aktivitasnya di pabrik. Sampai akhirnya kini ia hanya mampu membaringkan tubuh di kasur tua hadia perkawinan dengan almarhum suaminya. Kesendirian adalah teman yang setia baginya. Di luar mungkin banyak orang sering menyapa dan membantunya, namun mereka tidaklah benar-benar tahu pasti bagaimana seorang janda tua ini menghadapi hidup dan kesepiannya. Ya, hampir 15 tahun sudah ia gagah berani berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan dirinya melebihi Kartini; salah satu pahlawan wanita negeri ini.

Sampai akhirnya, ketika beliau diketahui tengah sakit dan tidak mampu beraktivitas oleh para warga, maka aku selaku tetangganya sering menemani ia sejak pulang sekolah sampai larut malam. Kadang aku juga belajar dan mengerjakan PR di rumah Ibu Aminah. Tidak jarang juga aku menginap di rumahnya. Ibu dan ayahku mengizinkan aku yang sering berkunjung dan menemani Ibu Aminah, dengan catatan bahwa nilai pelajaran di sekolah tidak boleh terganggu atas tindakan-tindakanku itu.

Penduduk yang lain pun, khususnya para ibu di desaku sering berkunjung ke rumah Ibu Aminah. Alhamdulillah, di senja usianya, Ibu Aminah banyak yang membantu dan peduli padanya. Meski tubuhnya tak mampu bekerja secara optimal seperti di usia mudanya dulu, namun Ibu Aminah masih mampu untuk diajak berdialog, maha kasih tuhan penguasa seluruh alam dan isinya. Para ibu di desaku memang lagi-lagi dibuat terkagum oleh Ibu Aminah. Tuhan tidak serta-merta mengambil seluruh kenikmatannya pada Ibu Aminah, terbukti dengan pendengaran dan kondisi alat ucap Ibu Aminah yang masih tergolong cukup baik.

Tak jarang ketika aku sedang menemaninya di sore atau malam hari, Ibu Aminah sering berbagi kisah tentang pengalaman hidupnya. Bukan hanya itu, Ibu Aminah juga sering menanyakan bagaimana sekolahku, bahkan sesekali ia mencandai aku dengan pertanyaan siapa pujaan hatiku. Ibu Aminah, wanita hebat kedua yang kukenal setelah ibuku. Bangga dan bersyukur sekali aku dapat menemani dan berbagi cerita dengan beliau.

Di suatu malam, tepatnya malam pesta rakyat yang diselenggarakan oleh karang taruna desa di alun-alun kecamatan, Ibu Aminah mengeluh kesakitan. Berkat kejadian itu, yang tadinya aku sudah mempunyai rencana bersama keluargaku untuk menonton pertunjukkan wayang golek, aku batalkan. Aku memilih untuk menemani Ibu Aminah. Ibu dan ayah pun setuju, mereka pun khawatir jikalau terjadi sesuatu apa-apa pada Ibu Aminah.

Keesokan harinya, setelah malam pesta rakyat itu adalah hari libur pertama sekolah setelah aku usai melakasanakan ujian akhir semester. Maka beberapa hari ke depan aku benar-benar mempunai waktu yang banyak untuk menemai Ibu Aminah. Untungnya aku mempunyai adik yang cukup rajin, jadi di rumah ibuku selalu dibantu adikku untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jadi aku tidak begitu khawatir berdiam lama-lama di rumah Ibu Aminah.

Malam pertama di hari libur sekolah, aku menginap di rumah Ibu Aminah. Saat itu merupakan salah satu malam yang begitu panjang kurasakan. Kuhabiskan dengan berbincang-bincang dengan Ibu Aminah. Lepas isya ternyata Ibu Aminah belum juga memejamkan mata. Ia malah mengajakku mengobrol. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun tidak ada tanda-tanda sedikit pun Ibu Aminah mengantuk. Sempat kuperingatkan ia bahwa ini sudah larut malam dan waktunya bagi ia untuk beristirahat. Namun ia malah mengatakan, "Janah, ibu belum mengantuk, ibu masih ingin ngobrol denganmu." Mendengar ia mengatakan demikian maka kuanggukan kepala tanda kumenyepakati apa yang ia inginkan.

"Ibu, tapi kalau ibu mengantuk ibu bilang sama Janah ya. Ibu jangan memaksakan diri untuk tidur terlalu malam, ingat kesehatan ibu.", aku bicara sambil kubetulkan letak selimutnya. Ibu Aminah tidak berbicara sedikit pun, ia hanya tersenyum kecil menanggapi ucapanku. "Sebentar ya bu, Janah mau ke belakang dulu, mau mengambil air minum untuk ibu."

Sekembalinya aku dari belakang, betapa tekejutnya aku melihat selimut yang kubetulkan tadi sekarang telah berlumuran darah. Kusibakan selimut itu, kugantikan dengan kain sinjang untuk menyelimuti tubuhnya. Kubersihkan darah yang ada pada mulut dan sekitar dagunya. Sembari aku membersihkan darah, aku bilang, "Bu tunggu sebentar ya, aku akan memanggil ayah dan ibu." Ibu Aminah menggelengkan kepala, tanda bahwa ia tidak setuju dengan apa yang akan kulakukan.

"Baiklah bu, baiknya sekarang ibu tidur saja, ini sudah malam bu, tidak baik kalau belum tidur."
"Tidak Janah, ibu belum mengantuk. ibu masih ingin mengobrol denganmu."

Kesal bercampur iba melihat Ibu Aminah seperti ini. "Baiklah bu, tapi janji pada Janah ya bu, ngobrolnya sebentar saja, habis itu ibu langsung tidur.", kuajukan kesepakatan padanya. "Iya Janah, ibu janji, ibu akan segera tidur setelah ngobrolnya selesai."

Cicit jangkrik sudah tak lagi terdengar. Petok kodok pun telah lenyap dari balik bilik. Hanya suara angin malam saja yang jelas-jelas kudengar dari luar sana. Memang angin malam ini tersa begitu kencang, mungkin karena sudah masuk musim panas.

"Janah, tolong ambilkan arit dan palu yang ada di atas lemari itu nak." Terheran aku mendengar permintaannya. "Untuk apa itu semua?", dalam hati aku bertanya-tanya. Seketika bulu kudukku merinding, dengan langkah berat aku menuju lemari dan berjinjit untuk meraih apa yang Ibu Aminah minta. "Nah, itu, ayo bawa kemari Janah." Suara peronda yang biasanya gaduh sampai fajar tiba, kali ini tak kudengar barang sekali eja. Malam yang makin menjadi kuhabiskan bersama seorang wanita tua; Siti Aminah, dan permintaannya yang tak masuk di akal.

"Janah, arit dan palu ini adalah pekakas yang dipakai oleh almarhum suami Ibu untuk menghidupi rumah tangga kami." Aku tidak menyangka sebegitu setianya Ibu Aminah menjaga kenangan almarhum suaminya. "Jadi kalau ibu dengan ingat pada bapa, ibu selalu mengambil dan memandangi ini ya bu?", aku bertanya. "Janah, kau ini lucu sekali. Bagi ibu, untuk mengingat almarhum ibu tidak membutuhkan apa-apa, arit dan palu ini ibu simpan karena pada tahun kedua sepeninggal suami ibu, sawah dan kebun ibu jual untuk membayar hutang dan membiayai hidup ibu, dan hanya pekakas inilah yang tersisa dari sawah dan kebun itu. Memang tidak lagi terpakai oleh ibu, tapi sesekali sering ibu bersihkan untuk menjaga kegunaannya."

Agak tidak terima aku atas jawaban Ibu Aminah, sebab kalau kedua benda ini bukanlah benda kenangan yang berarti baginya lantas kenapa ia repot-repot menyimpannya ditempat yang tidak semestinya; atas lemari. Bukankah itu adalah perilaku yang aneh? Kalau bukan barang berharga, tidak mungkin Ibu Aminah memperlakukannya secara khusus seperti itu.

"Janah, pasti kamu bertanya-tanya mengapa ibu menyimpannya di atas kemari. Iya kan?" Tanpa menunggu aku menjawab pertanyaannya, Ibu Aminah langsung memberikanku jawaban, "Kalau ibu tidak simpan di atas lemari atau misalnya ibu simpan di dekat hawu pasti ibu akan lupa. Makanya ibu simpan di atas lemari." Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Berarti kedua benda ini sangat berarti bagi ibu, benda ini adalah benda kenangan yang bernilai untuk ibu, makanya ibu menyimpannya di sini. Iya kan bu?" Ibu Aminah pun melempar senyum kepadaku. "Tidak seperti itu Janah, kedua benda ini hanya benda pakai biasa."

Ibu Aminah tetap berkilah dan tak mau mengakui kalau kedua benda ibu adalah benda berharga bagi dirinya. "Ya sudah bu, Janah simpan kembali ya kedua benda ini. Sekarang sudah larut malam, Ibukan tadi sudah janji kalau ibu akan segera tidur." Kubetulkan kain kebaya di atas tubuhnya yang agak sedikit melorot. "Baiklah Janah, besok kita ngobrol lagi ya." Kuanggukan kepala tanda aku akan memenuhi permintaannya. "Ayo, sekarang ibu istirahat. Janah juga akan rebahan di kursi depan bu."

Baru saja lima belas menit berlalu dan mataku rasanya baru saja akan terlelap, aku tiba-tiba terbangun dan kembali terjaga oleh batuk Ibu Aminah. "Bu, ibu tidak apa-apa? Ayo bu sini, ibu minum dulu." Ibu Aminah hanya meneguk gelas yang kusodorkan sebanyak dua kali saja. Ibu Aminah kembali batuk-batuk, cukup lama. Kembali kusodorkan gelas berisi air untuk Ibu Aminah minum. "Sudahlah Janah, ibu tidak ingin minum lagi. Uhuk... Uhukk.." Kembali Ibu Aminah batuk. "Sebentar ya bu, kuambilkan lagi sinjang biar ibu semakin hangat."

Dua helai kain sinjang kini dikenakan Ibu Aminah. "Uhuk... Uhukk... Uhukkk..." Panik bukan kepalang. Ibu Aminah kembali lagi mengeluarkan darah seiring dengan batuknya. Sembari kupandangi ia aku tak heran melihatnya begini, rutinitas di pabriklah yang membuat ia begini. Polusi mesin-mesin penggilingan setidaknya turut menyumbang dan bertanggung jawab atas gangguan pernafasan yang Ibu Aminah derita.

"Janah, sudahlah, ibu tidak apa-apa. Maukah kau menemani ibu mengobrol lagi? Kamu belum mengantuk bukan?" Aku terdiam sejenak, aku sebenarnya tidak ingin ia terus bicara karena itu semua akan mengakibatkan tenggorokannya ceppat kering kemudia merasa gatal dan lama kelamaan ia akan batuk berdarah lagi. "Baiklah bu, aku akan temani ibu. Apa yang hendak ibu obrolkan padaku kali ini?"

"Janah, ibu ingin bertanya, menurut kamu apa yang paling berarti di dunia ini?" Ibu Aminah bertanya tentang sesuatu yang menurutku bukanlah pertanyaan yang tepat dalam situasi seperti ini. "Menurutku yang berarti di dunia ini ialah kebahagiaan kedua orang tua, bu.", sedikit tidak bulat aku menjawabnya. "Apakah benar itu Janah?", Ibu Aminah kembali bertanya. "Iya bu, menurutku hal itu adalah yang paling berarti di dunia ini."

"Janah, bagaimana kamu mewujudkan itu semua?"
"Aku akan menuruti segala perintah dan keinginan orang tuaku, bu, dengan demikian aku rasa mereka akan bahagia dan bangga memiliki aku sebagai salah satu anaknya."
"Baiklah Janah, sungguh kamu adalah anak yang berbakti pada orang tua."
"Rido tuhan ada pada rido orang tuaku, bu."

"Janah, seandainya malam ini adalah malam ujian, dan kamu harus belajar, apakah kamu akan seperti sekarang? Apakah kamu akan menemani ibu sampai larut malam seperti ini?" Mulutku terkunci seketika, pertanyaan yang Ibu Aminah lontarkan memuat dua pilihan yang sulit. Lidahku kaku kelu, seolah kata sudah tak ada yang pantas lagi untuk kueja. "Ayolah, jawab pertanyaan ibu, Janah."

"Aku akan menemani ibu di sini." Kujawab untuk menyenangkan hati Ibu Aminah. "Apakah benar? Apakah betul begitu? Sekali pun kamu disuruh oleh orang tuamu untuk belajar di rumah? Bukankah kamu akan menuruti semua perintah dan keinginan orang tuamu? Bukankah kamu ingin membuat mereka bahagia? Janah, menunggui orang sakit sepertiku ini tidak akan membuat kedua orang tuamu bahagia. Bukahkah benar apa yang kukatakan?"

Lagi dan lagi, lidahku dibuat kaku kelu oleh perkataan Ibu Aminah. Maksud hati ingin menyenangkan Ibu Aminah malah kesalahan kulakukan. "Janah, ayolah bicara. Bukankah kita sedang mengobrol? Bagaimana, apakah benar yang ibu katakan barusan?" Akhirnya, dengan berat hati aku bicara, "semua yang ibu katakan mungkin benar, dan mungkin juga tidak. Di satu sisi aku ingin membahagiakan orang tuaku, tapi di sisi lain aku pun tidak bisa membiarkan ibu sendiri di situasi ibu yang belum sembuh. Aku cuman takut terjadi apa-apa dengan ibu."

"Janah, pada dasarnya manusia bebas memilih dalam hidupnya. Hidup adalah permainan, siapa pun yang tak sanggup untuk bermain maka ia akan segera menemukan hari akhirnya sendiri. Ketidak-berdayaan dalam mengambil keputusan adalah salah satu penyebab mengapa manusia yang satu dan yang lainnya berbeda. Kamu sebenarnya bisa saja menungguiku, akan tetapi itu artinya kamu telah mengecewakan kedua orang tuamu."

"Maksud ibu bagaimana?"
"Kita sejatinya adalah makhluk yang mempunyai kuasa atas diri kita sendiri. Ada pun kamu ingin membahagiakan orang lain itu semua bukanlah untuk menyenangkan hati mereka, melainkan untuk menyenangkan hatimu sendiri. Karena tanpa kamu melihat orang tuamu bahagia, kamu akan merasa merana, sengsara, dan berlumur dosa bukan?. Maka untuk menghindari itu semua kamu terpaksa membuat mereka bahagia."
"Aku kira perkataan ibu tidaklah semua benar."
"Yang mana yang tidak benar menurut kamu, Janah?"
"Bagiku, apa yang aku lakukan, jika itu datangnya atas perintah dari orang tuaku, maka akan kulakukan dengan hati penuh ikhlas dan tulus demi mengabdi pada mereka, dan itu semua demi kebahagiaan mereka, dan itulah yang paling berharga bagiku di dunia ini bu."
"Baiklah, kini ibu mau tanya, apa yang kamu akan rasakan kalau melihat kedua orang tuamu sedih, kecewa, berlinang air mata? Tidakkah kamu merasa merana, sengsara, atau berdosa karena tidak bisa membahagiakan mereka?"
"Seandainya yang tadi ibu katakan bahwa kita adalah makhluk yang mempunyai kuasa atas diri kita sendiri, maka akulah yang menentukan apa yang akan aku lakukan, aku akan membahagiakan orang tuaku."
"Itulah Janah, itulah, itu artinya kamu tidak menuruti perintah dan keinginan kedua orang tuamu, kamulah yang menentukan apa yang akan kamu lakukan, bukan orang tuamu."

Sayup-sayup lantunan zikir sudah terdengar nun jauh di desa tetangga. Malam ini sangat panjang. Nyaris aku tak dapat merasakan bunga tidur seperti hari-hari sebelumnya. Tuhan, aku harus berkata apa lagi. Ucapan-ucapan Ibu Aminah begitu membuat hati dan pikiranku terbelalak. Sepertiga malam yang membuatku kegerahan.

"Janah, ibu ingin kamu jawab pertanyaan ibu yang lainnya. Apakah kamu masih bersedia? Apakah kamu belum mengantuk?" Kuanggukan kepala seraya senyum hangat kuberikan pada wanita paruh baya yang mungkin takkan lama lagi mampu menghirup udara. "Janah, apa yang harusnya dilakukan oleh manusia jika ia menemukan jalan buntu dalam hidupnya?"

Lama aku terdiam. Aku kini lebih hati-hati untuk menjawab pertanyaan Ibu Aminah. Jangan sampai kesalah terulang dua kali. Jatuh pada lubang yang sama adalah sebuah kegurian. Masih kuingat salah satu hadits rasul, bahwa orang yang lebih baik dari hari kemarin merupakan orang yang beruntung. Makanya, tidak akan kuulang lagi kesalahan pada jawaban kedua ini.

"Menurutku bu, sebagai manusia kita haruslah terus berusaha menemukan jalan keluar. Jika satu pintu telah tertutup maka kita harus mencari pintu-pintu yang lain. Intinya kita harus tetap semangat dalam menjalani dan menghadapi hidup ini. Karena masalah pasti datang pada setiap makhluk yang hidup. Tugas kita bukanlah menghidari masalah itu, melainkan mencari bagaimana jalan keluarnya."

"Aku sangat senang mendengarkan jawabanmu Janah. Sungguh semangat yang menggebu. Andai saja semua orang bisa berpikir sepertimu. Maka kiranya tidak akan ada orang-orang yang putus asa di dunia ini. Lantas selain itu apalagi, Janah?"

"Selain itu kita harus senantiasa berdoa, bahwa hanya dengan doa dan pertolongan tuhanlah kita dapat keluar dari berbagai macam masalah, bu."

"Bukankah tuhan telah berkata, aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, jika bukan kaumnya itu sendiri yang merubahnya?"

"Benar bu, makanya tadi aku mengatakan lebih dulu kita harus berusaha, kemudia berdoa."
"Jika nanti pagi kamu keluar untuk pulang ke rumahmu, tentu kamu akan berharap keselamatan atas perjalananmu menuju rumah. Iya kan? Pertanyaanya, bagaimana jika dalam perjalanan kamu menemukan masalah, sementara kamu sejak melangkahkan kaki keluar dari rumah ibu sudah sangat hati-hati dan lengkap dengan doa selamat yang kamu panjatkan? Bukankah tidak ada lagi fungsi usaha dan doamu itu?

"Setidaknya aku telah berusaha dan berdoa, bu."
"Inilah dia yang membuat bangsa kita menjadi bulan-bulan bangsa lain, serta tak mampu bersaing dengan bangsa lain. Kita selalu saja bersembunyi dibalik kata s-e-t-i-d-a-k-n-y-a, tidakkah itu merupakan salah satu ciri dari mental orang-orang yang lemah, orang-orang yang tidaj mau berusaha? Bagaimana mungkin perubahan dapat terjadi jika tidak ada usaha?"

Malam yang panjang. Kokokan ayam jago pun rasanya sebentar lagi akan terdengar. Tapi, aku, di sini, di rumah Ibu Aminah, lagi-lagi dibuatnya kaku, seolah apa yang aku tahu ia mentahkan begitu saja dengan entengnya, dan sialnya aku pun sepakat dengan apa yang Ibu Aminah katakan.

"Uhuk... Uhukk... Uhukkk..." Kembali Ibu Aminah batuk. "Bu, sebaiknya ibu istirahat saja, nanti besok saja lagi kita lanjutkan mengobrolnya bu. Besok aku akan lebih pagi datang ke sini menemani ibu."

"Tidak Janah, kamu jangan percaya hari esok. Menunda apa yang masih bisa kita lakukan sekarang adalah perbuatan yang kurang baik. Lebih cepat lebih baik. Niat baik harus disegerakan, bukan begitu?"

"Tapi kondisi ibu sedang tidak sehat."
"Tapi ibu belum mengantuk."
"Tapi aku ingin ibu istirahat."
"Tapi ibu belum mau beristirahat."
"Tapi ini sudah mau subuh bu!"
"Tapi apa salahnya dengan subuh."
"Tapi aku ingin ibu sekarang tidur, istirahatlah bu!"
"Tapi ibu sama sekali belum mengantuk, Janah."

Setelah percakapan yang cukup keras, kubetulkan dua helai sinjang di atas tubuh Ibu Aminah. Kutinggalkan ia sendiri terbaring di atas kasurnya. Kuharap, ia segera tidur dan beristirahat. "Aku sudah mengatuk bu, aku tidur di kursi lagi ya bu? Ibu cepatlah istirahat juga. Assamualaikum ibu."

Adzan subuh pun akhirnya membangunkan aku. Aku harus segera pulang, agar jam 7 pagi ini aku bisa kembali lagi ke rumah Ibu Aminah. Kutengok ia di kamar, rupanya ia masih tertidur lelap. Tak sampai hati aku membangunkan Ibu Aminah. Tanpa ucap salam dan permisi kutinggalkan Ibu Aminah di rumah sendirian. Kuharap ia masih akan tertidur sampai aku tiba lagi di sini nanti. Akan kubangunkan ia dan kusuapi bubur ayam Mang Engkus. Ya, aku nanti akan sarapan bubur bersama Ibu Aminah.

***

"Assalamualaikum bu... Ibu Aminah? Bu, ini kami orang tuanya Janah."
"Wa..aa..llaii..kum..salaamm.. Uhuk.. Uhukk..", dengan terbata campur batuk Ibu Aminah menjawab.
"Ini kami bawakan bubur bu, untuk sarapan ibu."
"Ja..nnaa..hh kemana?"
"Sebelumnya kami mohon maaf atas semua kesalahan yang telah Janah lakukan selama ia menemani ibu."
"Janah anak yang baik, tidak pernah sekali pun ia berbuat salah kepadaku. Jaa.. nnnah... mmaa..naa? Uhuk.. Uhukkk.. Uhuk."
"Janah, sekarang ada di rumah, tadi ia meminta kami mengantarkan bubur ini kepada ibu."
"Ke...nna..ppaa.. tii..ddak Ja..nnaahh sen...dii..ri yaangg ke sii..nni..?"
"Janah sekarang sudah tenang bu, Janah sedang beristirahat."

Penyakit jantung yang diderita Ibu Aminah membuat semua yang baru saja terjadi tidak diceritakan langsung oleh orang tua Janah. Ya, kini Janah telah tenang. Sepulang dari rumah Ibu Aminah tadi, Janah terserempet oleh mobil oplet yang hendak ke pasar. Sempat Janah di larikan ke rumah sakit, namun apa daya, tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah. Ketika di lorong rumah sakit menuju ruang UGD, Janah berpesan pada ayahnya, "Bawakan bubur Mang Engkus untuk Ibu Aminah, ajaklah Ibu Aminah tinggal bersama ayah. Rawat ia seperti ayah merawat aku sampai sekarang."

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CERPEN: MALAM PANJANG"

Post a Comment