MENGEMAS LAPORAN; JURNALISME INVESTIGASI


Berikut ini ialah tulisan yang saya review dari bukunya DANDHY DWI LAKSONO berjudul JURNALISME INVESIGASI. Semoga dengan review ini rekan-rekan tergugah hati dan pikirannya untuk membaca ulang tulisannya dan mencari buku tersebut guna memetik pelajaran yang dari sana, kemudian menulis kembali. Mari Menulis...!


Teknik Penulisan
            Menulis naskah untuk media cetak/ online, televisi, dan radio memiliki teknik yang berbeda. Media cetak menggunakan bahasa tulis, sedangkan televisi dan radio menggunakan bahasa tutur/ lisan.
            Bahasa tulis itu kira-kira seperti ini:
            “Tak ada aktivitas. Di sana hanya ada seorang penerima telepon. Dari laporan keuanga yang telah diaudit, diketahui sebelum tahun 2004, perusahaan-perusahaan ini bahkan tidak mencatatkan pendapatan.
            Sedangkan bahasa tutur/ lisan seperti ini:
            “Tak ada aktivitas di gedung ini. Yang ada hanya seorang penerima telepon. Sebelum tahun 2004, perusahaan-perusahaan ini memang tidak pernah mencatatkan pendapatan.
            Setidaknya begitulah isi laporan keuangan yang telah diaudit.
            Perbedaan besar yang segera Anda temui adalah apa yang bisa ditangkap sendiri oleh mata atau telinga penonton tak perlu dijelaskan dalam narasi. Sebaliknya, jurnalis media cetak membutuhkan deskripsi yang lebih terperinci.

Kerangka Cerita Adalah Peta
            Dalam sebuah alur, kerangka cerita biasanya memuat beberapa bagian:
  1. Strategi membuka cerita, hendaknya dimulai dengan apa laporan tersebut.
  2. Pengantar masalah.
  3. Bagian inti masalah (memberikan assessment, menyampaikan angle, dan fokus, menyodorkan hipotesis).
  4. Penjabaran masalah (pembahasan, meletakkan konteks, membuka spektrum/ wide-angel).
  5. Klimaks (penyajian bukti utama, menguji hipotesis).
  6. Kesimpulan dan penutup.

Ibarat seorang pelukis, perupa, atau arsitek yang membutuhkan sketsa gambar, demikian pula dengan laporan investigasi. Dia membutuhkan kerangka.
Menyusun sebuah laporan investigasi adalah mengajak publik berjalan melalui rute yang sama dengan yang pernah kita lewati hinga kita memhami sebuah persoalan. Pada akhirnya dengan alur dasar seperti itu, baik jurnalis media cetak, radio, atau televisi diharapkan tidak melewatkan bagian penting apa pun, atau terjerumus memasukkan hal-hal yang tak relevan dalan laporannya.

Elemen Dalam Penulisan
            Farid Gaban merumuskan elemen-elemen yang harus diperhatikan seorang jurnalis media cetak dalam membuat sebuah tulisan, yaitu:
  1. Informatif. Esensi sebuah tulisan adalah memberi informasi, bukan merangkai bahasa. Informasilah yang menjadi batu bata penyusunan tulisan yang efektif. Untuk menulis efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detail kongkret yang spesifik dan akurat, bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.
  2.  Signifikan. Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Penulis harus meletakkan informasi itu dalam sebuah perpektif yang berdimensi; mengandung unsur apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.
  3. Fokus. Tulisan yang sukses adalah tulisan yang dapat secara jelas menyampaikan sebuah pesan tertentu. Tidak harus panjang lebar, tetapi justru efektif dan terfokus. Apalah guna jika penyususan bahasa dilakukan dalam bentuk yang panjang namun isinya hanya sampah belaka. Metta Dharmasaputra menggunakan parafrase: “Jangan tenggelam di belantara rimba data.”
  4. Konteks. Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan ke mana mengalir. Penulis pemula biasanya cenderung menyajikan hal-ha besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna pembaca. Sementara penulis yang lebih berpengalaman biasanya memunculkan konteks secara bergantian (secara bergelombang) ke seluruh cerita.
  5. Wajah. Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembca menemui. Berkenalan, serta mendengar sendiri gagasan/ informasi/ perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.
  6. Bentuk. Tulisan yang efektif mengandung cerita sekaligus mengungkap cerita. Umumnya tulisan ini berbentuk narasi, dan sebuah narasi akan sukses jika terdapat pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan lengkap yang memuaskan. Pembaca harus dibawa ke dalam situasi di mana segala hal yang ada dalam tulisan tersebut mengalir ke arah kesimpulan yang tak terhindarkan.
  7. Suara. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya . majalah/ koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yag memukau. Karena itu, warna suara yang konsisten harus hadir di seluruh cerita, sembari tidak lupa mengvariasikan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.


Kegagalan Dalam Penulisan
            Berikut ini ialah beberapa kegagalan yang terdapat pada tulisan (panjang dan kompleks):
  1. Gagal menekankan segala yang penting (seringkali karena gagal meyakinkan diri sendiri bahwa kita memahami informasi yang kita tulis).
  2. Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.
  3. Gagal memerangi kejemuan pembaca karena terlalu banya hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.
  4. Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik; entah itu kalimat mau pun keseluruhan cerita.
  5. Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menulis ejaan, atau tidak menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah kebahasaan.
  6. Gagal menulis secara berimbang. Ini akibat “tak rela” membiaran fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa perlu si penulis menyodor-nyodorkan kesimpulan. Dengan kata lain, menggurui pembaca.
  7. Gagal mengaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar, tetapi hanya mencoba menyalurkan informasi kepada mereka yang telah membeli koran/ majalah kita.


Waspadai Kata Sifat
            Perhatikan ilustrasi di bawah ini:
Saat ditemui di tempat persembunyiannya, buronan Polda Metro Jaya ini mengaku tinggal sendiri dan sudah tiga hari tak keluar rumah atau berhubungan dengan siapa pun. Dia juga mengaku tak ada yang datang dan pergu dari tempat ini. Tapi saat penutup mesin mobilnya kami sentuh, suhunya masih terasa panas.
“Oh, itu tadi saya hanya manasin mesin,” ujarnya seperti bisa membaca pikiran.
Tapi bekas ban mobil yang masih basah menunjukkan bahwa kendaraan tersebut ak hanya diam ditempatnya.
"Ya, namanya dipanasi, ya saya pakai muter-muter kompleks sebentar,” tukasnya dengan nada mulai meninggi.
           
Kata-kata yang dicetak miring (“terasa panas”, “basah”, “meninggi”) adalah fakta hasil observasi. Sehingga ketika jurnalis menulis frase “nada mulai meninggi”, itulah fakta subjektif yang valid karena telinganya mendengar sendiri dan membandingkannya dengan kalimta sebelumnya.
           Tapi dalam deskripsi situasi seperti ini, jurnalis harus tetap berhati-hati dalam menggunakan kata-kata seperti tampak guguk, terlihat gemetar, terkesan bingung–yang meskipun hasil pengamatan indra–tapi tetap mengandung unsur interpretasu yang terlaluu subjektif. Kata-kata itu dapat diwakili dengan misalnya, “saat ditanya, dia memainkan jari-jemarinya.”
         Hal-hal tersebut juga patut diwaspadai jurnalis radio yang juga mengandalkan pancaindera reportesnya dalam melakukan observasi. Laporan investigasi relatif lebih sebsitif terhadap terhadap reaksi balik yang dapat ditimbulkan akibat pihak lain yang tidak menyukai kata-kata sifat yang kita gunakan tanpa dasar yang kuat. Sementara itu, jurnalis televisi sedikit lebih terbantu dengan kamera karena gambar telah bercerita lebih banyak dari pada kata-kata.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENGEMAS LAPORAN; JURNALISME INVESTIGASI"

Post a Comment