ANALISIS INTRINSIK NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang Masalah
Karya sastra mengalir dari kenyataan-kenyataan hidup yang terdapat di dalam masyarakat. Akan tetapi karya sastra bukan hanya mengungkapkan kenyataan-kenyataan objektif itu saja, melainkan juga mencuatkan pandangan, tafsiran, sikap, dan nilai-nilai kehidupan berdasarkan daya kreasi dan imajinasi pengarangnya, serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. (Sugianto Mas, 2002 : 9) Bentuk sastra berarti cara dan gaya dalam penyususan dan pengaturan bagian-bagian karangan; pola struktural karya sastra. Ke dalamnya dapat digolongkan tiga bentuk; puisi, prosa, dan drama. (Panuti Sujiman, 1984 : 12  (dalam Sugianto Mas : 2010).
Prosa fiksi menurut Sudjiman adalah cerita yang mempunyai tokoh dan alur, yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi dalam ragam prosa (Sugianto Mas, 1998). Novel merupakan salah satu contoh bentuk dari karya prosa fiksi. Unsur-unsur yang terdapat pada novel adalah; tema, alur, tokoh dan perwatakan, latar atau setting, titik pengisahan atau juru cerita, gaya pengarang, dan amanat.
Maka dari itu, penulisan analisis ini dimaksudkan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik yang ada pada novel. Dan Novel yang menjadi bahan analisa saya adalah novel dengan judul Nayla karya Djenar Maesa Ayu.

1.2              Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan masalahnya adalah:
1.    Apa yang dimaksud dengan sastra?
2.    Apa yang dimaksud bentuk-bentuk sastra?
3.    Apa yang dimaksud dengan prosa fiksi?
4.    Apa ysng maksud jenis-jenis prosa fiksi?
5.    Apa yang dimaksud dengan novel?
6.    Bagaimana unsur intrinsik novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu?

1.3              Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan ini adalah:
1.      Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan sastra.
2.      Ingin mengetahui apa yang dimaksud bentuk-bentuk sastra.
3.      Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan prosa fiksi.
4.      Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan jenis-jenis prosa fiksi.
5.      Ingin mengetahui unsur intrinsik novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu.

1.4              Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan laporan ini adalah untuk saya selaku penulis dapat mengetahui unsur intrinsik yang terdapat pada novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu, juga mendapatkan pengalaman tentang bagaimana proses pengerjaan analisis unsur intrinsik yang terdapat pada novel. Selaku penulis saya pun mendapatkan ilmu pengetahuan baru yang terdapat dalam novel, ilmu tentang kehidupan, sosial, budaya, seks, dan tentang menulis. Penulisan laporan ini dapat dirasakan manfaatnya secara teoritis bagi pembaca. Dan penulisan tujuan laporan ini salah satunya untuk memenuhi tugas maka kuliah Anatomi Prosa Fiksi.

1.5              Sistematika Penulisan
Laporan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis menjelaskan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang;
·      Pengertian Sastra
·      Bentuk-bentuk Sastra
·      Prosa Fiksi
·      Jenis-jenis Prosa
·      Fiksi
·      Novel
·      Unsur-unsur Novel
BAB III ANALISI UNSUR INTRINSIK NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang;
·         Sekilas Tentang Pengarang
·         Sinopsis Novel (Nayla-Djenar Maesa Ayu)
·         Tema
·         Alur/Plot 
·         Tokoh dan Perwatakan
·         Latar/Setting 
·         Gaya 
·         Titik Pengisahan  
·         Amanat
BAB IV SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

















BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Sastra
Sastra menurut pendapat saya merupakan kehidupan. Karena di dalam sastra kita berkutat dengan kehidupan, entah kehidupan permasalahan ataupun permasalahan kehidupan. Sebuah ilmu tentang hidup itulah sastra. Sastra menurut saya juga merupakan pengulangan. Karena isi yang ada dalam sastra merupakan sebuah pengulangan mengenai kehidupan. Sastra itu hidup karena kehidupan. Kehidupanlah yang membuat sastra itu hidup. Kehidupanlah yang membuat sastra itu bersastra. Sastra dalam hidup maupun hidup dalam sastra. Apalah artinya sastra apabila jauh dari kehidupan. Kosong. Bersastra berarti berkehidupan. Kehidupan yang bagaimana? Kehidupan yang hidup. Bijak membijaki kebijakan dalam bersastra harus disertai dengan bijak membijaki kebijakan dalam kehidupan. Karena sastra itu kehidupan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sastra Adalah bahasa yang dipakai dalam tulisan; karya tulis yang memiliki nilai seni. Pengertian dalam bahasa Indonesia yang demikian tidak hanya berlaku di Indonesia saja. Nama sastra sebenarnya merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari nama yang digunakan dalam masyarakat bahasa asing, khusunya Eropa. Dalam bahasa Inggris, sastra dinamakan literature, dalam bahasa Jerman dinamakan literatur, dalam bahasa Perancis litterature. Nama susastra digunakan dalam masyarakat bahasa Eopa tersebut; letterkunde dalam bahasa Belanda, belles-letters dalam ahasa Perancis (Teeuw : 1984 (dalam Faruk : 2010)).
Namun ketika saya selaku penulis mengamati artian bahwasannya sastra itu adalah tulisan, menurut saya kurang tepat. Memang ada karya sastra yang berbentuk tulisan, namun bukan hanya tulisan saja menurut saya. Sebelum menyentuh sastra itu merupakan sebuah tulisan. Alangkah lebih arif lagi ketika kita ingat bahwa sastra itu dibangun oleh bahasa. Apa itu bahasa? Pada hakikatnya bahasa itu merupakan alat komunikasi. Bahasa dibagi menjadi dua; bahasa verbal dan non-verbal. Bahasa itu sendiri dibantu oleh unsur segmental dan suprasegmental untuk membantu pemahaman tentang maksud dan tujuan bahasa itu ketika dikomunikasikan. Namun bahasa dalam sastra merupakan bahasa yang indah, bahasa yang berirama, bahasa yang mempunyai pola-pola bunyi tertentu seperti persajakan, bahasa yang mempunyai ritme, asonansi, dan aliterasi, dan sebagainya.
Sastra itu sebagai karya inovatif, imajinatif, dan fiktif. Menurut keduanya acuan karya sastra bukanlah dunia nyata, melainkan duania fiksi, imajinasi. Pernyataan-pernyataan yang ada di dalam genre karya sastra bukanlah proposisi-proposisi logis. (Wellek dan Warren : 1968 (dalam Faruk : 2010)) Namun menurut saya karya sastra itu acuannya adalah dunia nyata. Karena ketika kita bersastra secara sadar atau tidak sadar kita sedang berkaca kepada kehidupan. Dan kehidupan yang kita alami itu merupakan kehidupan nyata. Walaupun yang nyata dan tidak nyata itu tidak dapat kita nyatakan dengan begitu saja. Seperti ketika saya membuat sajak yang berjudul Derita Lilin yang dimuat dalam majalah Idealisme (majalah Universitas Kuningan). Ketika saya membuat sajak itu saya berkaca kepada permasalahan kehidupan saya ketika saya menghadapi seorang perempuan bernama Rina Rosiana (yang sekarang menjadi kekasih saya sejak tanggal 27 Agustus 2011). Seperti Williams berpendapat bahwa sastra itu menyangkut keseluruhan tata kehidupan masyarakat. Dunia sosial secara keseluruhan pada dasarnya merupakan hasil karya kreatif.
Secara etimologi kata sastra, yang berasal dari bahasa Sansakerta, dibetuk dari akar kata sas dan –tra. Sas mempunyai arti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk’; sedangkan –tra mempunyai arti ‘alat, atau sarana’. Karena itu, kata sastra dapat berarti ‘alat untuk mengajarkan atau buku petunjuk’. Dengan arti ini dalam bahasa Sansakerta dapat dijumpai istilah Silpasastra yang berarti ‘buku arsitektur’, dan Kamasastra yang berarti ‘buku petunjuk seni bercinta’. Karya sastra mengalir dari kenyataan-kenyataan hidup yang terdapat di dalam masyarakat. Akan tetapi karya sastra bukan hanya mengungkapkan kenyataan-kenyataan objektif itu saja, melainkan juga mencuatkan pandangan, tafsiran, sikap, dan nilai-nilai kehidupan berdasarkan daya kreasi dan imajinasi pengarangnya, serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. (Sugianto Mas, 2002 : 9)

2.2 Bentuk-Bentuk Sastra
Bentuk sastra berarti cara dan gaya dalam penyususan dan pengaturan bagian-bagian karangan; pola struktural karya sastra. Ke dalamnya dapat digolongkan tiga bentuk, yaitu puisi, prosa, dan drama. (Panuti Sujiman, 1984 : 12  (dalam Sugianto Mas : 2010).
Sutardji Calzoum Bachrie dalam Kredo Puisi Antologi O Amuk Kapak mengatakan Bila kata dibebaskan, kreatifitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif. Dan bahwa dalam puisinya, ia membebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelunggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika. Menulis puisi bagi Sutardji Calzoum Bachrie adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata. dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi baginya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Begitu pun anggapan saya tentang puisi. Bagi saya kata dalam sebuah puisi itu  hidup. Kata bisa bernafas, kata bisa bergerak, kata bisa bersifat, kata mempunyai karakter, kata bisa berkembangbiak, kata itu berkelamin, kata bisa diraba, bisa disentuh, bisa dipeluk, bisa dirangkul, bisa diajar mengobrol. Kata bisa mencintai dan bercinta. Kata bisa membunuh dan berbunuh atapun dibunuh. Kata itu hidup, itu kata hidup. Kata dalam puisi-puisi saya lebih menekankan bagaimana kata memandang makna, bukan makna memandang kata. Karena makna dibangun oleh kata. Shahnon Ahmad berpendapat bahwa puisi meliputi tiga unsur yang pokok. Pertama, hal yang meliputi pemikiran, ide, atau emosi; kedua bentuknya; dan yang ketiga adalah kesannya. Semuanya itu terungkap dengan media bahasa.
Pengertian prosa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005 : 200) adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh ikatan yang terdapat dalam puisi. Prosa adalah ragam sastra yang dbedakan dari puisi karena tidak terlalu terikat oleh irama, rima, dan kemerduan bunyi. Prosa lebih dekat dengan bahasa sehari-hari (Panuti Sudjiman : 60 (dalam Sugianto Mas-Kajian Prosa Fiksi : 1988)).  Prosa dibagi menjadi dua; prosa imajinatif dan prosa non-imajinatif. Dalam prosa imajinatif unsur yang paling kuat adalah bentuk kreativitas mengolah bahasa yang sifatnya imajiner dan dalam bentuknya pun prosa imajinatif dipengaruhi oleh diksi dan gaya bahasa yang estetik. Prosa non-imajinatif, dalam hal ini bentuk tulisan cenderung atau bahkan tidak memperdulikan bagaimana sebuah bahasa diolah menjadi indah. Pada prosesnya merupakan interaksi yang kaku, karena diikat oleh aturan atau kaidah penulisan tulisan.
Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra, dalam bentuk wujudnya, drama merupakan susunan dialog dari para tokohnya. Unsur yang terdapat dalam drama pun tidak berbeda jauh dengan prosa fiksi, yakni terdapat tema, alur/plot, tokoh dan perwatakan, ketegangan, latar atau setting, gaya, dan amanat. Namun sebuah naskah drama rasa belum lengkap atau belum utuh apabila belum dipentaskan dalam sebuah seni pertunjukkan.

2.3 Prosa Fiksi
Prosa fiksi menurut Sudjiman adalah cerita yang mempunyai tokoh dan alur, yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi dalam ragam prosa (Sugianto Mas, 1998).  Cerita rekaan adalah satu bentuk sastra yang memaparkan terjadinya peristiwa secara rinci mengenai segala hal yang bersangkut paut dengan persitiwa tersebut, seperti siapa tokoh dalam peristiwa tersebut, bagaimana karakter tokoh tersebut, di mana dan kapan terjadi peristiwa itu, bagaimana suasana, bagaimana proses terjadinya peristiwa itu, siapa penutur peristiwa itu, dan bagaimana runtutan peristiwa itu . (Sugianto Mas, 1998 : 42)

2.4 Jenis-Jenis Prosa Fiksi
Dasar penggolongan prosa fiksi dapat dilakukan berdasarkan kurun waktu, gaya ungkap, isinya, dan unsur-unsurnya yang menonjol.
Berdasarkan kurun waktu, prosa fiksi terdiri dari;
a.    Dongeng, sering disebut juga folkor merupakan cerita rekaan yang pendek dan pada umumnya mengisahkan peristiwa dengan memasukan hal-hal keajaiban dan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.
b.    Hikayat, cerita rekaan lama yang panjang yang mengisahkan peristiwa dengan memasukan unsur keajaiban seperti dongeng. Cerita ini biasanya berpusat pada kehidupan raja-raja, keluarga dan pembantu dekatnya. Unsur keajaiban nampak dari kesaktian para tokohnya dalam menaklukan musuh atau suatu kerajaan lain dan merebut putri-putri cantik.
c.    Cerita Sejarah, cerita tentang raja-raja atau kepala negeri yang biasanya bersandar pada kenyataan sejarah. Namun tidak seluruhnya fakta sejarah.
d.   Novel, prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar belakang secara tersusun. (Panuti Sujiman 1948 : 53 ( dalam Sugianto Mas : 1988))
e.    Cerpen, jenis prosa fiksi yang memaparkan cerita secara singkat dan padat.
f.     Novelet, merupakan novel kecil, dari segi kuantitasnya berkisar 60 halaman sampai 100 halaman.
Berdasarkan gaya ungkap, prosa fiksi terdiri dari:
a.    Narasi, tipe cerita rekaan yang gaya ungkapnya menuturkan.
b.    Deskripsi, tipe cerita rekaan yang gaya ungapnya melukiskan atau menggambarkan.
c.    Semi Dramatik, tipe cerita rekaan yang gaya ungkapnya bercakap-cakap.
Berdasarkan Isi, prosa fiksi terdiri dari:
a.    Novel Bertendens, novel bertujuan artinya ketika membacanya akan menimbulkan pandangan-pandangan tertentu.
b.    Novel Sejarah, novel yang semua cerita tentang tokoh-tokoh sejarah.
c.    Novel Psikologi, cerita yang terpusat pada kenyataan emosional para tokohnya dan yang menjajaki tingkatan kegiatan mental yang berbeda-beda.
d.   Novel Sosial, novel masyakarat, menceritakan suka duka kehidupan tertentu dalam lapisan sosial tertentu.
e.    Novel Ditektif, cerita yang penuh dengan rahasia, ketegangan bertahap.
f.     Novel Anak, menceritakan suka duka anak.
g.    Novel Adat, menceritakan tentang adat istiadat yang perlu diperhitungkan dalam kehisupan manusia.
h.    Novel Keagamaan, cerita yang berhubungan dengan keagamaan.
i.      Novel Percintaan, cerita yang disusun berdasarkan persoalan cinta.
Berdasarkan Pola Umum, prosa fiksi terdiri dari:
a.    Novel Populer, merupakan karya sastra yang dikategorikan sebagai sastra hiburan dan komersial.
b.    Novel Serius, keseriusannya dalam mengungkapkan masalah kehidupan manusia yang diungkapkan pengarangnya.

2.5 Novel
Novel sering dikatakan sebagai karangan yang menceritakan suatu peristiwa yang luar biasa sebab dalam kehidupan manusia. Dikatakan peristowa luar biasa sebab hanya memuat cerita berdasarkan konflik hidup yang sangat menonjol, sehingga menceritakan tokoh sejak kecil sampai dewasa dianggap tidak perlu. Konflik batin yang mendalam dari para tokoh menjadi sasaran utama cerita, hal itu menyebabkan plot menjadi erat, tunggal, dan menarik.
Novel berasal dari bahasa Latin ‘novellus’ yang diturunkan dari kata ‘novies’ yang berarti ‘baru’. Dikatakan baru sebab novel mucul belakangan dibandingkan dengan betuk puisi dan drama. Yus Rusyana memunculkan pengertian novel sebagai cerita yang panjang dan mengisahkan peristiwa rasional. Namun pengertian tentang ‘peristiwa rasional’ masih perlu dipertanyakan sebab sekarang meski tidak banyak, ada novel yang mengisahkan peristiwa-peristiwa yang justru tidak rasional. Hal ini karena bentuk-bentuk simbolik mendominasi proses penciptaannya, sehingga cerita secara total merupakan cerita simbol dari kehidupan nyata. Novel merupakan prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peritiwa dan latar secara tersusun. (Panuti Sujiman, 1984 : 53 (dalam Sugianto Mas, 1998))

2.6 Unsur-Unsur Novel
Unsur-unsur yang terdapat pada novel adalah; tema, alur, tokoh dan perwatakan, latar atau setting, titik pengisahan atau juru cerita, gaya pengarang, dan amanat.
Tema adalah ide pokok dalam sebuah cerita. Tema dapat ditentukan ketika pembaca telah membaca sebuah cerita. Karena tema dapat diasumsikan setelah semua konflik yang ada dalam cerita itu telah habis dipahami. Tema tidak dapat ditemukan secara eksplisit. Tema dapat ditentukan dari pengambilan kesimpulan atas segala paparan peristiwa dari awal sampai akhir.
Alur. Keberadaan alur membuat cerita menjadi masuk akal seab alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi tetapi lebih penting adalah menjelaskan mengapa hal itu terjadi. S Tasrif menyatakan bahwa setiap cerita biasanya diciptakan dari lima bagian peristiwa. Urutan peristiwa-peristiwa sebgai berikut:
a.    Pengarang mulai melukiskan suatu keadaan.
b.    Peristiwa yang bersngkut paut mulai bergerak.
c.    Keadaan mulai memuncak.
d.   Peristiwa-peristiwa mencapai klimaks.
e.    Pengarang memberikan pemecahan persoalan dari semua peristiwa.
Apabila pengarang menyusun cerita berdasarkan urutan peristiwa dari permulaan sampai ahir maka susunan tersebut dapat dikatakan sebagai alur konvensional atau tradisional, namun apabila peristiwa dari tengah atau dari akhir maka dikatakan alur sorot balik atau flash back.
Secara kuantitaif, alur diklasifikasikan menjadi dua;
a.    Alur Erat, terdapat hubungan yang kuat dari satu peristiwa ke peristiwa yang lainnya. Sehingga pembaca harus melewati peristiwa-peristiwa tersebut secara berurutan agar pembaca dapat memahami cerita secara utuh.
b.    Alur Longgar, terdapat hubgungan yang longgar antara satu peristiwa satu kepada peristiwa lainnya. Sehingga pembaca dapat melewati beberapa peristiwa dan masih dapat memahami maksud atau keseluruhan cerita.
Secara kualitatif, alur dikalsifikasikan menjadi dua;
a.    Alur Tunggal, cerita hanya mempunyai satu susunan kejadian baik dalam cerita yang mempunyai alur konvensional atau pun sorot balik.
b.    Alur Ganda, cerita yang mempunyai lebih dari satu peristiwa. Hal ini disebabkan karena berkembangnya cerita karena dianggap suatu cerita dianggap penting dan menarik.
Tokoh dan perwatakan. Menurut Panuti Sujiman, manusia yang ada di dalam cerita rekaan disebut sebagai tokoh, yaitu individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan dalam berbagai peristiwa. Semua tokoh cerita rekaan, artunya tidak akan ada dalam dunia nyata. Bisa jadi akan ada kemiripan sifat-sifat yang sama dengan seseorang dalam kehidupan nyata. Ada beberapa jenis tokoh yang mungkin terdapat dalam sebuah cerita rekaan yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan;
a.    Tokoh Sentral, tokoh yang hampir dalam keseluruhan cerita menjelajahi persoalan. Mereka yang menjadi manusia yang konfliknya menonjol. Tokh ini sering disebut dengan tokoh utama.
b.    Tokoh bawahan, tokoh yang kedudukannya tidak sentral dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat menunjang atau mendukung tokoh utama.
Ada tiga cara pengarang dalam melukiskan watak tokoh;
a.    Cara langsung atau Analitik, pengarang tanpa rasa ragu menggambarkan watak tokohnya kepada pembaca.
b.    Cara tak langsung atau Dramatik; dengan menggambarkan fisik tokoh, dengan menggambarkan tempat atau lingkungannya, dengan menggambarkan perbuatan dan tingkah lakunya, dengan menggambarkan pikiran-pikiran tokoh, dengan menggambarkan melalui dialog tokoh.
c.    Cara langsung dan tak langsung, hal ini dilakukan karena pengarang ingin menjelaskan watak tokhnya sejelas-jelasnya.
Latar atau Setting. Segla keterangan mengenai waktu, ruang, suasana, dan lingkungan sosial yang terdapat dalam cerita. Latar ini berfungsi untuk memperkuat tema, alur atau plot, watak tokoh, dan membangun suasana dalam cerita. Latar tempat adalah gambaran di mana seluruh peristiwa dalam cerita itu terjadi. Latar waktu adalah gambaran kapan seluruh peristiwa dalam cerita itu terjadi. Latar suasana adalah gambaran bagaimana suasana seluruh peristiwa dalam cerita itu terjadi. Latar sosial adalah gamabaran lingkungan sosial apa saja yang ada dalam cerita.
Titik Pengisahan. Disebut juga sebagai sudut pandang adalah kedudukan pengarang dalam bercerita. Secara garis besar titik pengisahan atau juru cerita terdiri dari titik pengisahan sebagai pengamat dan titik pengisahan sebagai tokoh.
Titik pengisahan sebagai pengamat biasanya ber “Ia” kepada tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, atau menyebut nama tokoh masing-masing. Titik pengisahan sebagai pengamat ini dibagi menjadi tiga; titik pengisahan maha tahu (menceritakan segala hal yang terdapat dalam cerita) dan titik pengisahan objektif (menceritakan sesuatu yang nampak saja, artinya tidak sampai kepada hal yang abstrak seperti suasana hati tokohnya), dan titik pengisahan sebagai peninjau (memilih salah satu tokoh dan menjelaskan secara detail tentang tindakannya dan perasaanya).
Titik pengisahan sebagai tokoh, pengarang menempatkan dirinya sebagai “Aku” dalam rekaan yang dibuatnya. Titik pengisahan ini dibagi menjadi dua; titik  pengisahan sebagai tokoh protagonis dan titik pengisahan tokoh bawahan.
Gaya, merupakan gaya pengarang membawakan sebuah cerita. Ini ada kaitannnya dengan gaya bahasa yang pengarang pakai dalam membawakan ceritanya ketika pengarang menyuguhkan alur ataupun tokoh dan unsur-unsur lain yang termuat dalam ceritanya. Ada dua aliran yang terenal, yaitu; aliran Platonik: menganggap style seagai kualitas suatu ungkapan dan menurutnya ada ungkapan yang memiliki style ada jga yang tidak; aliran Aristoteles: menganggap style sebagai kualitas yang inheren, yang ada dalam tiap ungkapan. (Keraf, 2010 : 112) Gaya bahasa diartikan sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Keraf, 2010 : 113)
Amanat dapat kita asumsikan secara sistematis ketika kita telah membaca seluruh peristiwa dalam cerita tersebut. Artinya peristiwa-peristiwa yang ada memuat nilai-nilai yang dapat kita ambil. Dan amanat secara keseluruhan dapat kita simpulkan ketika kita telah mehami cerita yang ditulis oleh pengarang.





BAB III
ANALISIS UNSUR INTRINSIK
NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU

3.1 Sekilas Tentang Pengarang
Djenar Maesa Ayu. Ibu dari Banyu Bening dan Btari Maharani ini lahir di Jakarta, 14 Januari 1973. Cerpen-cerpennya telah tersebar di berbagai media massa Indonesia seperti Kompas, The Jakarta Post, Repbulika, Koran Tempo, majalah Cosmopolitan, dan Lampung Post.
Buku pertama Djenar Maesa Ayu yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! Telah cetak ulang 8 kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain juga akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Saat ini cerpen dengan judul yang sama sedang dalam proses pembuatan ke layarbesar lebar. Cerpen “Waktu Nayla” menyabet predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas itu. Sementara cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh ke dalam bahasa Inggir dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan.
Buku keduanya, Jangan Bermain-main (dengan Kelaminmu) juga meraih sukses dan cetak ulang keduan sehari setelah buku itu diluncurkan pada bulan Februari 2005. Kumpulan cerpen ini berhasil meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004.
Nayla adalah novel pertama Djenar Maesa Ayu yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

3.2 Sinopsis Novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu
Nayla. Seorang gadis berumus 13 tahun yang sakit secara psikologis. Umur 9 tahun sudah diperkosa oleh Om Indra. Kekejaman ibu kandungnya yang katanya itu kebaikan untuk Nayla agar terhindar dari sfat malas sering kali Nayla terima. Peniti yang dimasukan ke dalam vaginanya dengan tujuan agar Nayla tidak mengompol lagi ketika bangun tidur. Ibunya sangat melarang keras Nayla untuk menemui ayahnya. Ketika sudah didapati di mana ayahnya berada ternyata ayahnya sudah menikah lagi dengan Mbak Ratu.
Pendapatan Nayla sebagai juru lampu adalah Rp. 200.000 per bulannya. Apabila Nayla dipinta untuk menjadi penari latar, Nayla mendapatkan uang Rp.50.000.
Pertemuannya dengan Juli membuat Nayla merasa nyaman. Acap kali Nayla bercinta dengan Juli. Hubungan layaknya suami istri acap kali mereka lakukan walaupun Juli berjenis kelamin perempuan. Juli adalah perempuan yang over protektif kepada Nayla.
Karena Juli akan ke Surabaya, Juli memutuskan hubungannya dengan Nayla. Nayla bertemu dengan Ben. Laki-laki yang pernah bercinta di toilet diskotek tempat Nayla dan Juli bekerja.
Sepeninggal ayahnya, Nayla frustasi sekali. Nayla dijebloskan ke dalam rumah perawatan, hal itu merupakan hasil diskusi antara Mbak Ratu dengan Ibu kandungnya Nayla.
Nayla sukses menjadi seorang penulis dan ketika karyanya mulai dimuat, ada semacam pendapat yang kontradiktif dari Ibu kandungnya.

3.3 Tema
Tema dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah tentang feminisme.
Bukti tentang tema yang saya simpulkan adalah;
1.    “Otak laki-laki memang kerdil. Senggama bagi mereka hanya berkisar di seputar kekuatan otot vagina,” kata Juli. (Maesa Ayu, 2005 : 5) Dan Nayla membenarkan atau sependapat dengan pendapat Juli. Nayla mengatakan bahwa laki-laki yang hanya menginginkan selaput dara saja itu bodoh.
2.    ....... Lebih baik saya memilih mencintai Juli ketimbang laki-laki yang menginginkan selaput dara saja. (Maesa Ayu, 2005 : 6)
3.    Asumsi Nayla mengatakan laki-laki itu binatang terbukti dengan salah satu cerpennya yang berjudul Laki-Laki Binatang. (Maesa Ayu, 2005 : 38)
4.    Asumsi Nayla tentang seks bahwa laki-laki itu tidak adil karena memandang perempuan hanya untuk dinimkati tanpa diberi kesempatan menikmati. (Maesa Ayu, 2005 : 77)
5.    Kebencian Juli terhadap jiwa laki-laki yang mengalir dalam tubuh perempuannya itu salah satu faktor yang membuat Juli jauh dengan keluarganya. (Maesa Ayu, 2005 : 102)
3.4 Alur
3.4.1 Susunan alur/plot dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah sebagai berikut:
1. Pengarang mulai melukiskan keadaan.
Nayla. Karena rasa malas yang ada padanya maka ibunya menghukum Nayla dengan cara menusukan peniti keselangkangan Nayla, dan Nayla akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. Bukan hanya selangkangan saja, vagina Nayla pun ditusuk dengan peniti oleh ibunya.
Ibu berpendapat bahwa kalau dia mengikuiti naluri pemalasnyanya, berarti dia (Ibu) menjerumuskan darah dagingnya sendiri (Nayla). Ibu ingin Nayla itu menjadi sosok yang kuat karena di luar kehidupan itu begitu bangsat. Ibu tidak ingin Nayla tumbuh menjadi seorang anak yang manja, pemalas, dan tak tahu artinya kerja keras.
Nayla merencanakan bolos sekolah bersama Olin, Lidya, Shanty, dan Nathalia. Bus kota membawanya mengitari jalan disepanjang Blok M, menuju Sudirma. Lalu menelingkung di bundaran patung api. Kemudian mereka berhenti di sebuah halte bus di bilangan Thamrin. Mencari ayah.
Nayla dimasukan ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika. Awal mulanya Nayla diminta untuk melihat kondisi korban tabrak lari karena petugas yang mengaku dari Polda mengatakan bahwa di dalam dompet orang yang menjadi korban tabrak lari ada alamatnya Nayla. Namun bukan ke Polda, melainkan ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika.
Nayla ke rumah Ibu. Walaupun Ibu merasa tersakiti karena mengetahui bahwa Nayla suka meminum alkohol dan mengenggak obat yang penting akhirnya Nayla sudah berani memilih jalan hidupnya sendiri. Sebagai Ibu mwnurutnya tidak ada satu niatku mencelakakan anaknya. Aku (Ibu) hanya ingin kamu belajar menghadapi pilihan dengan segala konsekuensinya.
2. Peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak.
Nayla berkomunikasi lewat telepon bergantian dengan Olin dan Ben (pacar Nayla). Ketika Nayla menyudahi teleponnya dengan Ben dan kemudian Olin masuk kembali ke telepon Nayla tiba-tiba Si Bencong masuk ke teleponnya Nayla. Setelah Nayla mendapat kabar dari Si Bencong, handphone Nayla mati dan pada saat itu Ben menelepon Nayla. Karena teleponnya mati Ben kesal dan meninggalkan beberapa pesan suara untuk Nayla.
Nayla yang mendengar Ben lagi dekat dengan perempuan kemudian mengirim SMS ke Lidya dan menanyakan kebenaran akan hal tersebut. Kemudian Lidya langsung mendatangi Nayla. Ribut via SMS antara Nayla dengan Ben pun tidak dapat dihindari lagi, Nayla mempermasalahkan apakah benar Ben dekat dengan perempuan lain.
Nayla membuat cerita pendek dengan Judul Laki-Laki Binatang. Nayla memberi kabar kepada teman-temannya yang lain lewat email; wawan, tomboy, gumilar, dan  broto.
Jakarta, 21 Juli 1991. Juli membuat surat untuk Nayla yang diselipkan di bawah bantal. Juli memutuskan hubungan mereka secara sepihak karena Juli akan segera ke Bandung, dan ia tidak kuat kalau hubungan jarak jauh. Juli juga menganggap bahwa sekarang umurnya sudah terlalu tua untuk mengikuti proses Nayla menjadi seorang penulis yang membutuhkan suasana yang “bergerak”. Juli memilih hidup tenang dan tinggal bersama kekasih yang menerimanya serta memilih hidup untuk  menjadi pengajar.
Jakarta, 11 November 1989. Nayla menulis surat untuk ibunya yang tidak pernah ia kirimkan. Isi surat mengenai pemberitahuan kondisi Nayla, bahwa kini Nayla bisa hidup dengan hasil keringat sendiri dengan bekerja sebuah diskotek menjadi juru lampu. Serta memberi tahu bahwa kini Nayla mempunyai pacar namun bukan seorang laki-laki melainkan seorang perempuan.
Jakarta, 18 Februari 1998. Nayla mengirimkan surat untuk ayahnya dengan cara surat itu dikuburkannya dimakam ayahnya. Nayla menyesal karena hanya mempunyai waktu sebentar (2 bulan) tinggal bersama ayahnya. Nayla berpendapat tentang ibunya bahwa ibunya adalah matahari yang tak akan pernah terjamah dan terjangkau. Artinya sosok ibu merupakan hal eksklusif, hal yang rumit, yang tidak dapat dimengerti terlebih dengan sifatnya yang keras kepala. Dan menceritakan pula pada ayahnya bahwa orang-orang mengganggap Nayla pengguna narkoba maka dari situ Nayla dijebloskan ke rumah perawatan.
3. Keadaan mulai memuncak
Juli dalam keadaan setengah sadar di diskotek dibantu oleh Nayla dengan diberikannya Cola-Cola dan garam. Juli oleh Nayla dibawa ke kosannya tempat Nayla tinggal. Juli sempat heran atas hubungannya dengan Nayla, biasanya Juli mengawali hubungannya dengan hubungan layaknya suami istri, namun berbeda dengan ketika dia menghadapi Nayla. Setelah semalaman Juli menginap di kosannya Nayla dan mengetahui kondisi kosan Nayla yang tidak layak untuk dihuni, terbesit dipikiran Juli untuk mengetahui lebih tentang Nayla, dan ingin melindungi Nayla, serta ingin memperbaiki hidup Nayla. Namun betapa kecewanya Juli ketika mengaja Nayla ke hotel dan berharap Nayla bisa tinggal lama-lama dengan Juli. Nayla ternyata lebih mementingkan pekerjaannya ketimbang sejenak tinggal bersama Juli. Dan betapa kecewanya lagi Juli ketika Nayla mengatakan “Yangku, saya bukan pecinta perempuan. Saya bukan lesbian. Tapi saya pecinta kehidupan. Dan saya akan setia pada kehidupan.”
Nayla, Maya, Yanti, dan Luna berencana merampok taksi, namun karena keresahan Nayla ketika di dalam taksi itu membuat supir taksi curiga maka akhirnya supir taksi membawa mereka ber-4 ke Polsek. Nayla dibebaskan dengan tebusan uang oleh ibunya Maya. Nayla tidur sendirian di terminal karena Maya, Yanti, dan Luna sudah pulang ke rumah masing-masing. Pada saat itu Nayla sadar kalau ia pasti bisa bertahan selama punya akal dan mental. Selama ia masih bisa peka terhadap hal-hal yang dianggap tak berarti oleh kebanyakan orang dan menjadikannya sebuah nilai.
4. Peristiwa mulai memuncak.
Tentang Seks. Sebuah judul tulisan yang belum selesai Nayla buat, namun Nayla memberikannya kepada Juli. Isi tulisan tersebut mempertanyakan tentang seks itu lebih penting mana antra kualitas dan kuantitas? Lalu menegaskan bahwa perempuan itu harus kenal dirinya sendiri dulu (dalam konteks hubungan seks). Hal itu disebabkan laki-laki menciptakan mitos perempuan ideal itu adalah perawan. Alat kelamin perempuan yang ideal itu adalah tidak kelebihan cairan dan otot vaginanya kencang. Robeknya selaput dara bisa dikarenakan naik speda dan menari ballet. Asumsi tentang perempuan berkulit putih yang kelebihan cairan  itu tidak enak, becek. Sedangkan perempuan yang berklit hitam tidak kelebihan cairan dan ototnya lebih alot. Oleh karena itu banyak perempuan berusaha mengatasi kelebihan cairan dan kelentusan otot vaginanya. Mereka minum jamu, mengikuti senam skes dan body languange, memasukan tongkat madura ke dalam vaginanya selama lima menit sebelum melakukan hubungan seks dan merendam vaginanya ke dalam daun sirih. Dan paling parah dari semua itu perempuan takut terangsang. Laki-laki meciptakan mitos bagi kaumnya sendiri. Bahwa laki-laki yang tahan berjam-jam dan mempunyai penis besar bisa disebut laki-laki perkasa. Mereka melupakan perempuan tentang daerah-daerah sensitif yang harus dirangsang supaya mengeluarkan cairan (orgasme). Laki-laki leih memandang penting bagaimana dia mampu membolak-balik tubuh perempuan seperti sate ayam.
Nayla memberi penjelasan pada Juli bahwa ketika dia bersamanya dia mampu mengenal dirinya sendiri. Karena dengan bercinta dengan Juli, Nayla mampu terangsang klitorisnya (kelentit), keadaan itu terjadi ketika vagian Juli dan Nayla saling bergesekan.
Tentang Pelecehan Seksual. Sebuah judul tulisan Nayla yang belum selesai. Ketika sedang asik membuat tulisan dengan judul itu Ben (pacar Nayla) membuka obrolan dengan mengatakan “Ngetik melulu ah. Laper nih, Yang...”, ternyata itulah asal muasal Nayla ribut dengan Ben. Ben sempat mengatai Nayla tentang tulisannya dan mengeluarkan asumsi bahwasannya pantas saja tidak ada media yang mau memuat tulisannya karena lagi-lagi tentang permasalahan seks. Sampai Nayla pun memecahkan botol bir dan mengacungkannya ke depan muka Ben.
Tentang Pornografi. Olin dan Lidya menanyakan kepada Nayla tentang cerpen yang berjudul Menyusu Ayah. Namun ketiganya hanya memperbincangkan cerpen itu menurut asumsi mereka sendiri-sendiri saja, dan lebih kepada rasa bingung tentang apa yang hendak disampaikan pengarang lewat cerpennya yang berjudul Menyusu Ayah.
Nayla ikut bersama ibunya untuk menemui Om Billy kemudian ibu menemui Om Deni, namun perlakuan ibu kepada Om-om lain tidak sama seperti ibu memperlakukan Om Indra, hanya Om Indra yang bebas kelaur masuk kamar Ibu serta memegang kunci duplikat kamar tidur ibu di rumah.
Nayla sempat main kucing-kunicngan dengan Juli mengenai persoalan laki-laki selam satu tahun. Nayla berhubungan intim dengan laki-laki karena sekedar kepuasan rohani. Mendengar suara mereka mengerang. Merasakan tubuh mereka menggelinjang. Menyaksikan mereka tak lebih dari seekor binatang sangatlah menyenangkan.tapi mereka tidak memiliki karena impian mereka untuk memiliki itu tidak akan pernah terjadi karena Nayla merasa dia hanyalah milik Juli.
Kebencian Juli terhadap laki-laki karena ia benci dengan jiwa laki-laki yang mengalir di dalam tubuhnya yang perempuan. Tapi Julli tidak bisa membenci tubuh perempuannya kerena ia mencintai tubuh perempuan. Juli benci dengan jiwa laki-laki yang mengalir di dalam tubuh laki-laki. Tubuh yang tidak pernah bisa menjadi miliknya. Tubuh-tubuh itu yang selalu menyayanginya. Tubuh-tubuh itu yang selalu merampas kekasihnya. Tubuh-tubuh itu yang menjauhkan Juli dari keluarganya. Keluarga yang normal karena berjiwa sesuai dengan penampilan tubuhnya.
Pasca putus dengan Juli, Nayla merasa tidak siap walaupun secara moril dan materil sudah siap. Dengan rasa rindu dan permohonan kembali agar Nayla diberikan kesempatan lagi untuk dapat bersama-sama Juli akhirnya Nayla mengalami depreesi dan frustasi yang cukup berat, dengan tertawa ia sejenak dapat menghilangkan masalah yang ia hadapi dengan kondisi pasca putus dengan Juli.
Pasca putus dengan Ben. Bagaimana Nayla mengatasi kesedihannya pasca putus dengan Ben? Haruskah ia besedih hanya karena Ben tidak kuat dengan sikap Nayla, tidak kuat dengan dunia barunya Nayla dengan penulis-penulis tanpa pernah melibatkan Ben, dan oleh sebab itu Ben merasa layak mendapat pembenaran untuk main perempuan? Nayla tidak ingin apa pun, siapa pun, membuatnya terkesan lagi bagai orang gila. Maka dari itu pasca Nayla putus dengan Ben, Nay mecoba untuk menahan tawa. Dan dengan fasilitas yang sudah tersedia, Nayla lebih menfokuskan dirinya untuk menulis.
Pasca putus dengan Om Indra, ternyata ibu semakin kuat saja. Tidak pernah Nayla melihat ibunya menangis pasca putus dengan Om Inrda. Ibu semakin kuat saja, ibu tidak hanya menusuki vagina Nayla dengan peniti setiap kali mendapati Nayla mengompol, namun ibu sering kali memukul Nayla tanpa sebab yang bisa diterima akal sehat. Nayla dipukuli ketika ia ketahuan menumpahkan sebutir nasi, namun keadaan itu berbanding terbalik dengan anak sebayanya. Nayla dijemur di atas seng yang panas terbakar terik matahari tanpa alas kaki ketika ibu mendapati Nayla tidak menutup kembalik pensil, berbeda dengan anak sekolah yang lain, ibu mereka bersedia mencarikan tutup pensil anaknya. Nayla dipaksa mengejan sampai berak lantas diikat dan tahinya direkatkan dengan plester disekujur tubuh dan mulutnya ketika ketahuan tidak makan sayuran, berbeda dengan anak sekolah lainnya ketika anaknya menampik sayuran ibunya membelikan bakso atau pempek palembang. Penis Om Indra sering kali masuk ke dalam vagina Nayla, dan Nayla tidak menceritakannya kepada ibu karena ia Nayla mengaggap bahwa sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada ibunya, ia melakukannya demi ibunya. Om Indra tidak jadi menikah dengan ibu karena Om Indra ketahuan menggauli pembantu yang hamil. Ibu pun mengusirnya. Dengan pertimbangan antara ingin mengatakan bahwa Om Indra sering memasukan penisnya ke dalam vagina Nayla kepada ibunya dan rasa takut yang Nayla bayangkan ketika Nayla mengatakannya pada ibunya maka Nayla memutuskan untuk pergi, Nayla akan mencari ayah yang selama ini ibu benci.
5.    Pengarang memberikan pemecalahan soal dari semua peristiwa.
Interview 1. Dalam interviewnya Nayla mengatakan bahwa ia memulai menulis sejak ia bisa menulis. Ia menulis dari sudut pandangnya yakni sebagai perempuan. ia menulis berdasarkan pengalaman harfiah dan non-harfiah. Ia banyak menulis tentang seks bukan atas dasar pertimbangan, namun  karena Nayla buta dengan masalah politik, ekonomi, sains, hukum, filsafat, karena tidak tahu akan  hal-hal tersebut maka Nayla tidak berani pura-pura menuliskannya. Permasalahan seksualitas yang menekan perempuan merupakan permasalahan seks yang Nayla akngat dalam tulisan-tulisannya.dan Nayla mengatakan tidak setuju dengan konsep virginitas yang diagung-agungkan oleh masyarakat. Karena dianggap perempuan difungsikan sebagai alat reproduksi, perempuan harus perawan, perempuan harus bisa hamil dan melahirkan, harus pintas memuaskan laki-laki, perempuan tidak diberi hak untuk bersenang-senang atau disenangkan. Dan Nayla sudah tidak perawan lagi serta belum menikah namun buktinya ia baik-baik saja.
Interview 2. Di toko buku. Nayla menawari orang yang meng-interview bir namun ditolak dan meminta orange jus saja. Nayla menjawa bahwa diasudah sejak umur empat belas tahun meminum bir. Nayla mengatakan menulislah yang memilihnya bukan dia yang memilih menulis. Karena sekeras apapun berusaha tapi inspirasi tidak datang maka dia tidak akan bisa menulis.
Interview 3. Nayla mengatakan semua hal yang dialami, didengar, dilihat, dan dirasakanlah yang menjadi inspirasi tulisannya termasuk seks. Mengapa seks? Nayla menganggap bahwa seks tidak bisa dipisahkan dari persoalan kehidupan. Nayla menulis untuk jujur dan tidak terlalu mengaggap bahwa seks merupakan barang mewah. Nayla tidak mengklasifikan tipe yang ia inginkan untuk seorang pacar, ia tidak memandang soal fisik yang penting bagi Nayla bisa berkomunikasi. Nayla mengaku bukan permasalah suka atau tidak suka, melainkan lebih senang melihat perempuan telanjang dari pada laki-laki.
Setelah ketiga interview itu muncul beberapa Headline; Nayla Kinar Sudah Tidak Perawan, Nayla Kinar: Minum Bir Sejak Umur Empat Belas Tahun, Nayla Kinar Suka Sesama Jenis.
Interview 1. Interview ini dari pihak majalah  MAJALAH kepada Ratu (ibu tiri Nayla). Ratu mengatakan bahwa ia dan Nayla menemani Bung Radja (ayah Nayla) hingga detik-detik terakhir. Ratu mengatakan tidak kerepotan ketika Nayla tinggal bersamanya dan ayahnya. Malah Ratu bersyukur karena Radja diberikan kesempatan untuk tinggal bersama putri tunggalnya.
Interview 2. Interview ini dari pihak tabloid TABLOID kepada Ratu. Ratu mengatakan bahwa Radja pergi tanpa beban. Ratu tidak dapat menahan ketika Radja berkarya, ketika menulis kadang Radja suka lupa segalanya, waktu dan makan. Sebagai istri ia hanya bisa mengingatkan makan, mengingatkan istiharat, dan menemai serta memberi dukungan. Ratu mengaku bahwa ketika Radja bertemu dia sudah tidak minum bir lagi, hanya sesekali minum ir ketika sedang makan malam dengannya dan Nayla.
Interview 3. Interview ini dari pihak koran KORAN kepada Ratu dan Nayla. mereka berdua mengakui edekatan mereka dekat sekali. Sama-sama mencintai Radja. Sama-sama kehilangan Radja. Rasa senasib seperjuangan inilah yang membuat kami sangat dekat.
Setelah ketiga interview itu muncul beberapa Headline; Bung Radja, “Diradjakan” Sebelum Berpulang, Segelas Anggur dari Radja untuk Ratu, Ratu dan Nayla AKUR?
Ratu ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika, ratu menanyakan bagaimana prosedur supaya Nayla bisa masuk ke lembaga perawtan ini. Petugas memberi tahu bahwa prosedurnya hanya mengisi formulir dan membuat laporan. Namun karena Ratu bukan ibu kandung Nayla maka Ratu harus mempinta persetujuan ibu kandungnya dahulu.
Ratu dirumah ibu kandung Nayla. mencoba mendiskusikan atas apa yang menimpa Nayla. Ratu mengatakan bahwa Nayla sering tertawa sendiri, Ratu dan Ibu kandungnya mencurigai Nayla menggunakan obat. Ratu meminta ibu kandungnya untuk menandatangi surat persetujuan untuk mengirim Nayla ke rumah perawatan.
Gelas bir pertama dengan Ben. Gelas bir pertama dengan Ben merupakan awal pertemuan Nayla dengan Ben. Ketika Nayla muntah dan jatuh di sebuah bar lalu menghardik orang-orang yang melihatnya, termasuk Ben. Namun Ben tidak marah. Ben malah memberikan senyum. Seolah-oleh Ben sudah tidak aneh melihat kondisi perempuan seperti Nayla dengan perkataan yang kasar dan sering mabuk. Karena Nayla pikir Ben merupakan laki-laki yang tidak goblog dan laki-laki yang tidak mencari cinta maka ditariknya Ben ke kamar mandi yang tidak berlampu dan mereka melakukan hubungan seks di dalam kamar mandi itu.
Ben membawa Nayla ke sebuah restoran dengan nuansa yang begitu romantis. Malam itu mereka ditemani oleh sebotol anggur. Anggur yang mengingatkan Nayla tentang semua peristiwa yang menimpanya, tentang ibu dan Om Indra, tentang ayah dan Ratu. Ben yang mengenal Nayla bukan perempuan yang mencari cinta namun mencari mabuk, perempuan yang selalu berbicara tentang masa sekarang, tidak masa lalu atau masa depan. Tapi kini Nayla membicarakan masa lalu, masa kecil Nayla dengan segudang peristiwa getir yang Nayla rasakan.
Gelas bir terakhir dengan Ben. Nayla marah besar karena mengetahui Ben jalan dengan si Cantik sedangkan pada saat yang bersamaan Ben sudah membuat janji makan malam dengan Nayla. saat kerbutan berlangsung Nayla memecahkan botol ir dan membuat goresan di dada Ben. Dan Ben pun pergi. Dan untuk kali ini Nayla bena-benar putus dengan Ben.
Setelah satu bulan lamanya putus dengan Ben, akhirnya cerita pendek Nayla dimuat di koran. Ucapan selamat masuk lewat sms dan telepon Nayla. Nayla kegirangan tidak menyangka akan mendapatkan kabar yang mebahagiakan baginya ini. Antara percaya dan tidak percaya.
Ketika ibu melihat cerita pendek Nayla ia merasa antara tidak percaya dan percaya atas tulisan Nayla. Nayla membuat cerita pendek dengan tokoh ibu yang begitu jahat serta memuat cerita tentang Om Indra dan ibu mengatakan mengapa tidak memberitahukannya, mengapa Nayla menganggap ibu akan memilih binatang dari pada Nayla? ibu beranggapan semua salah ayahnya. Bukan dirinya (ibu).
Nayla merasa ada di dua dunia. Disatu sisi, ia senang berada di kafe tempat berkumpulnya dengar teman-teman sesama penulis (Broto, Tomboy, Gumelar, dan Wawan) tanpa harus belanja baju baru dan menata rambut ke salon terlebih dahulu. Di sisi lain, ketika jins dan sepatu boots atau kedsnya, ketika rambutnya berminyak dan hanya diikat ala kadarnya, ketika kaos oblongnya tidak rapi terseterika itu tak terlalu menjadi hal penting di komunitas barunya, tetap saja ia merasa sebagai makhluk aneh. Makhluk yang pantas dicurigai.
Waktu saya kecil, saya tidak pernah mengenal minuman. Dan ketika saya tidak minum, saya tidak pernah jujur. Saya tidak berani bilang apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya penasaran. Saya cuma pura-pura baik padahal mendendam. Dendam pada ibu, dendam pada pacar-pacar ibu, dendam pada Om Indra, dan dendam pada keadaan. Saya merasa seperti kuntilanak. Waktu saya sudah mengenal minuman, saya tidak pernah tidak jujur. Saya marah ketika mau marah. Saya memaki ketika tidak mau memaki. Saya melakukan apa yang saya anggap benar dan tidak mendendam. Saya merasa seperti bidadari.
“Sssttt... Nayla udah tidur, kecapean. Jangan diganggu..”. sebuah kalimat yang Nayla terima dari ibunya yang pada waktu itu akan melakukan kencan dengan teman kencannya. Sebuah kalimat yang sama yang Nayla terima dari Ayahnya. Perasaan yang berbeda yang Nayla rasakan ketika menerima kalimat tersebut dari orang yang berbeda (antara ayah dan ibu). Ketika menerima dari ibu, Nayla hanya pura-pura tidur karena rasa takut akan ibunya jikalau ibunya mendapati Nayla yang belum tidur. Nayla tidak pura-pura tidur ketika menerima kalimat tersebut dari ayahnya, karena ia memang merasa letih dan ingin mengistirahatkan tubuhnya. 
Nayla bekerja sama dengan Ardan untuk menggarap sebuah skenario dari bukunya. Ardan adalah sabahat Nayla mereka bertemu ketika sedang diinterview si salah satu stasiun radio di Bandung. Ardan umurnya lebih muda 3 tahun dari Nayla. Ardan kerap kali memanggil Nayla dengan sebutan mamah dan Nayla pun memanggilnya dengan sebutan Nak. Namun ketika Nayla sedang menggarap skenario itu, Nayla merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya, karena takut akan menghubung-hubungkannya dengan pengalaman pribadi Nayla. Ardan berpendapat bahwa Nayla takut dengan tokh Ibu. Namun ketika Ardan menanyakan hal itu Nayla tidak menjawabnya. Nayla beranggapan bahwa dalam hidupnya ia takut akan banyak hal, bahkana dirinya sendiri. Dan sering merasa banyak tokoh hidup di dalam tubuhnya dan mereka begitu sulit untuk dikenal. Dan meraka adalah yang menulis buku, yang menulis skenario, yang merampok taksi, yang meniduri banyak laki-laki, yang mengkhianati Juli, dan yang menusuk Ben dengan botol bir. Mereka membenci ibu dan membenci kelemahan saya (Nayla).
Jadi berdasarkan uraian di atas, susunan alur/plot novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu dapat dikatan sebagai plot seret balik (flash back). Karena di awal novel ini menyuguhkan semua permasalahan yang ambang. Ambang di sini tidak jelas asal muasal tentang semua permasalahan yang ada. Baru ketika menuju akhir semua asala muasal itu digambarkan. Permasalahan dan asal muasal itulah yang mendukung cerita bahwa tokoh Nayla merupakan seorang penulis yang sedang menggarap skenario bersama Ardan di Bali.
3.4.2 Ketegangan atau suspence yang nampak dalam peristiwa-perstiwa cerita novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu:
·      Ketika peniti yang menurut Ibu sudah steril itu ditusukan ke selangkangan, ia akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. (Maesa Ayu, 2005 : 1)
·      Tak hanya selangkangan Nayla yang ditusukinya. Tapi vaginanya. (Maesa Ayu, 2005 : 2)
Dapat kita bayangkan bagaimana rasanya ketika sebuah peniti itu menghunus alat kelamin yang cenderung kulitnya lebih tipis dibandingkan dengan kulit tangan. Peniti ketika menusuk tangan pun rasanya sudah sakit dan berdarah, bagimana ketika peniti itu menusuk alat kelamin.

·      Heh! Setan! Jangan belagak gilak ya! Pake ngatain temen-temen gue gila, maki-maki gue taik lagi! Anjing gila lu! Go to Hell
Sender:
Nayla
08169192
Sent:
01:21:11
12-01-2000
(Maesa Ayu, 2005 : 35)
Perkataan yang kasar dapat menimbulkan tindakan kekerasan. Perkataan yang kasar biasanya dikarenakan si pengujar sedang merasa kesal, karena siapa pun, dalam keadaan apapun, di mana pun, terhadap apa pun.
·      Biar aku kebiri sekalian barangnya yang gatal. (Maesa Ayu, 2005 : 42)
·      Nafas Juli di telinga Nayla membuat bulu kduknya berdiri............... Dan malam itu, Nayla bermaksud menyerahkan tiap inci tubuhnya kepada Juli. (Maesa Ayu, 2005 : 61)
Hubungan seksual yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan pun akan menimbulkan ketegangan. Otot-oto bereaksi dan mengalami ekstenbilitas (kemampuan otot untuk menjadi lebih memanjang, otot menjadi lebih panjang dari ukuran semula) untuk laki-laki. Namun ada fantasi tegang tersendiri ketika seorang perpempuan bercinta dengan perempuan (lesbian).
·      “Dasar keparat. Anjing kurap. Monyet. Setan. Kontil!” Baru sekali Juli menyaksikan Nayla marah. Juli sebenarnya terperangah. (Maesa Ayu, 2005 : 66)
Ketegangan di sini dikhususkan pada perasaan Juli, karena ia baru mendapati Nayla begitu marah dan kesalnya sehingga mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang perempuan.
·      Bahkan ketika juli akhirnya terpaksa mengeluarkan juga cincin yang sudah disiapkannya, dan meminta Nayla untuk tinggal bersamanya, Nayla menerimanya dengan biasa-biasa saja. Juga ketika Juli bertanya apakah setelah itu Nayla akan setia kepadanya, apakah Nayla berjanji tak akan menyerahkan dirinya ke pelukan laki-laki maupun perempuan lain, pakah Nayla seorang lesbian, jawaban yang keluar dari mulut Nayla sama sekali di luar harapan Juli.
“Yangku, saya buka pecinta perempuan. saya bukan lesbian. Tapi saya pecinta kehidupan. Dan saya akan setia pada kehidupan” (Maesa Ayu, 2005 68)
Yang dinamakan perasaan baik laki-laki yang mencintai perempuan ataupun seorang lesbian, akan tersakiti ketika cintanya ditolak dan mengetahui perasaan pasangan yang tidak sejalan dengan perasaannya. Ataupun mengenai permasalahan pemahaman.
·      Nayla semakin resah. Kelihatannya, sopir taksi pun mulai curiga. Dan tiba-tiba saja, berbelok kiri secara mendadak. Berhenti di depan Polsek Jakarta Barat. (Maesa Ayu, 2005 : 71)
Yang namanya di bawa ke kantor polisi pasti tegang, apalagi orang yang dibawanya itu memang merasa salah, dan terdapat barang bukti yang ada. takut ditahan, takut diinterogasi. Takut akan polisi.
·      Kepala Nayla terjungkal ke belakang ketika seorang polisi yang sedang berdiri menjambak rambutnya. (Maesa Ayu, 2005 : 73)
Rambut merupakan organ luar manusia yang sifatnyaa sensitif. Ketika organ itu dilukai atau diberi respon yang mendadak dan rasa kaget, rasa sakit, akan bercampur aduk. Apalagi rambut menerima respon dijambak oleh seorang polisi di kantor polisi dan sedang diinterogasi.
·      Nayla menerkam Ben. Menghajar mukanya. Menjambak rambutnya. Ben mempertahankan diri dengan memegangi tangan Nayla. nayla semakin rutal. Digiitnya tangan Ben, beruaha melepaskan pegangan tangannya. Pegangan tangan Ben terlepas. Nayla meraih botol bir dan memecahkannya, lalu mengacungkan ke depan muka Ben. (Maesa Ayu, 2005 : 89)
Peristiwa menghajar muka kemudian menjambak rambut merupakan proses kontak fisik yang tegang. Apalagi setelah itu tangan digigit dan mengacungkan otol ir kepada Ben. Botol bir yang dipecahkan. Merupaka benda tajam. Karena ujung-ujung dari botol itu bisa membuat luka bahkan sampai berdarah. Muka merupakan bagian yang paling dilihat, paling dipelihara oleh manusia, namun bagaiamana jadinya kalau organ atau bagian tubuh yang dijaga itu dilukai, pasti akan terasa kesal, dan marah.
·      Om Indra meremas-remas payudaranya yang belum tumbuh sambil mastrubasi di depannya. (Maesa Ayu, 2005 : 108)
Meremas payudara itu sambil mastrubasi, memainkan alat kelamin sendiri (laki-laki). Meremas payudara dimaksudkan untuk menambah rangsangan pada yang sedang mastrubasi. Payudara merupakan salah satu daerah sensitif yang dimiliki oleh perempuan. Apabila daerah sensitif itu disentuh atau bahkan diremas akan terjadi rangsangan hebat pada yang diremas, apalagi
·      Saya dipukuli ketika menumpahkan sebutir nasi. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
Dipukuli merupakan perbuatan kekerasan yang tidak diinginkan oleh siapapun, apalagi karena hal sepele, menumpahkan sebutir nasi.
·      Saya dijemur di atas seng yang panas terbakar terik matahari tanpa alas kaki karena membiarkan pensil tanpa kembali menutupnya. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
Seng merupakan lempengan yang dapat menyerap panas. Ketika kulit menyentuh lempengan seng yang memang panas itu maka kulit akan melepuh. Apalagi ini merupakan organ manusia yang sehari-hari kerjanya dapat dikatakan sentral juga, untuk berjalan. Bagaimana jadinya apabila kulit kaki itu melepuh, maka penderita itu tidak dapat berjalan dalm jangka waktu tertentu. Itupun kalau lepuhannya cepat sembuh, kalau alokasi waktu untuk sembuhnya lama, maka penderita akan terganggu menjalani aktivitasnya.
·      Saya dipaksa mengejam sampai berka lantas diikat dan tahinya direkatkan dengan plester di sekujur tubuh juga mulut saya karena ketahuan tidak makan sayur. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
Dipaksa merupakan tindakan yang tidak disukai semua orang. Apalagi ini dipaksa untuk ereksi (mengeluarkan kotoran), bukan sampai di sana saja, kotoran yang sudah kelar direkatkan dengan plester disekujur tubuh juga mulutnya. Ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kotoran merupakan sisa zat yang tidak terpakai oleh tubuh, dari bau saja kotoran identik dengan aroma yang tidak sedap, dan apa jadinya apabila kotoran itu direkatkan disekujur tubuh dan dimasukkan ke dalam mulut. Enek. Jijik.
·      Dan pada akhirnya, ketika ibu tidak ada di rumah, Om Indra tidak hanya mengeluarkan ataupun menggesek-gesekan penisnya ke tengkuk saya. Ia memasukan penisnya itu ke vagina saya. (Maesa Ayu, 2005 : 113)
Vagina. Vagina seorang perawan bahkan anak kecil itu lubangnya kecil, dapat dirasakan bagaimana rasa sakit ketika penis besar seorang om-om memaksa masuk ke dalam lubang vagina yang kecil. Sakit. Perih.
·      Apakah ia akan menusuki vagina saya tidak hanya dengan peniti namun dengan linggis. (Maesa Ayu, 2005 : 114)
Bayangan akibat rasa trumatis yang diderita dapat mengakibatkan tindakan yang tidak wajar. Linggis masuk vagina? Hanya orang gila yang melakukan itu. Bahkan orang gila sekali pun mungkin tidak akan sampai hati melakukan perbuatan seperti itu.
·      “Nah tulisan Mbak Nayla kan temanya banyak tentang seks, apakah waktu inspirasi itu datang Mbak Nay sedang kepingin?”
“Hah?!” (Maesa Ayu, 2005 : 119)
Pertanyaan yang tidak etis dilontarkan? Bagaimana perasaan yang menerima pertanyaan itu pasti akan kesal. Apalagi pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang sifatnya pribadi (private), tentang seks.
·      “Kalau suka sesama jenis yang Anda maksudkan adalah suka melihat perempuan dari pada laki-laki, ya saya suka. Saya lebih senang lihat perempuan telanjang dari pada laki-laki.” (Maesa Ayu, 2005 : 122)
Ketegangan akan asumi yang tidak wajar dari seorang perempuan yang merasa suka apabila melihat perempuan lain telanjang. Aneh. Tidak wajar.
·      Ada satu lagi nih, Mbak... tapi enar ya jangan marah, gosipnya lagi Mbak Nayla dulu sempat hampir punya anak.”
“ Kamu mau nulis karya saya atau mau nulis gosip, sih?” (Maesa Ayu, 2005 : 122)
Mewawancari ada etikanya. Ketika wawancara itu topiknya sudah menyimpang dengan kesepakatan obrolan maka orang yang diwawancara siapapun itu akan merasa kesal.
·      “Saya merasa Nayla mulai aneh. Dia tidak mau melanjutkan sekolah. Dia sering tertawa sendiri, Dia...” (Maesa Ayu, 2005 :139)
Melihat orang tertawa sendiri, semuaa orang akan berasumsi aneh dan tidak wajar. Namun keteganga di sini dikhususkan pada Mbak Ratu yang merasa Nayla sudah tidak waras, karena tertawa sendiri, tanpa sebab, tanpa tema tertawa lainnya.
·      Sorry saya potong, jadi kamu sudah gak kuat dan mau Nayla kembali ke saya, kan? Kenapa tadi kamu bilang enggak?” (Maesa Ayu, 2005 : 141)
·      Maka dituntunnya laki-laki itu menuju kamar mandi. Dicumbunya di depan pintu. Ditariknya masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi yang tak berlampu. Dibukanya ritsleuting celana laki-laki itu. Dilakukannya semua yang ingin ia lakukan saat it, di kamar mandi tak berlampu. (Maesa Ayu, 2005 : 144)
·      “Waktu kecil, kami sering minum anggur,”
Aku hampir tersedak ketika mendengarnya. Bukan karena anggur yang diminumnya sejak kecil. Tapi kata waktu kecil itulah yang memuat anku tersedak. Ia selalu bicara masa kini. Tidak kemarin. Tidak masa depan. (Maesa Ayu, 2005 : 146)
·      “Elu kan gak mampus, setan! Dan elu bukan suami gue!” (Maesa Ayu, 2005 : 149)
·      “Dasar laki-laki pengecut, mental tempe! Gue haus tauk!” (Maesa Ayu, 2005 : 151)
·      Anak tidak tahu diuntung. Tega-teganya dia melakukan hal itu. Tulisan sampah. Kenapa ada media yang mau memuatnya? Selera sampah! (Maesa Ayu, 2005 :154)
·      Kinar: Kuping kan masalah anatomi. Gak ada hubungannya sama gak peduli, taik! (Maesa Ayu, 2005 : 164)
·      “Mamah takut sama tokoh Ibu!” (Maesa Ayu, 2005 – 174)
·      “Apa yang anda lakukan tidak menentukan siapa diri Anda” (Maesa Ayu, 2005 : 178)
3.4.3 Padahan pembayangan yang nampak dalam cerita novel tersebut atau Foreshadowing yang tampak dalam peristiwa-peristiwa cerita novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu.
Padahan pembayangan saya;
·      Saya beranggapan bahwa tokoh Juli itu laki-laki, namun anggapan salah salah, tokoh Juli adalah perempuan. Terbukti dengan kutipan;
... Perawakan dan sikap Juli tak ubahnya seorang laki-laki. Ia memang pecinta sesama jenis. (Maesa Ayu, 2005 : 4)
... Sekarang pun dengan kekasihnya yang seorang model mereka sering bercinta dengan cara memasuki vagina satu sama lain dengan jari mereka. (Maesa Ayu, 2005 – 5)
·      Saya beranggapan bahwa Nayla tidak akan berhasil bertemu ayahnya, namun anggapan saya salah. Terbukti dengan kutipan;
Entah mengapa, tiba-tiba mulut saya mengeluarkan suara. Saya menyebut nama...
Ia mengajak kami berlima masuk ke dalam mobilnya,...
“Mana di antara kalian yang bernama Nayla?” (Maesa Ayu, 2005 : 12)
·      Saya beranggapan bahwa Nayla dengan Juli akan langgeng, namun pendapat saya salah. Terbukti dengan kutipan;
Yangku, bukan maksudku mutusin kamu sepihak. Dua tahun lebih ini aku bersyukur bisa dekat sama kamu. Tapi aku merasa gak ada jalan lain selain pisah. Kamu udah bilang, kamu gak mau tinggal di Bandung. (Maesa Ayu, 2005 : 51)
·      Saya beranggapan bahwa Nayla akan dipenjara dengan waktu yang lama karena permasalahannya berencana merampok taksi, namun anggapan saya salah. Terbukti dengan kutipan;
Nayla masik setengah bermimpi ketika melangkah keluar Polsek dan mengucapkan terima kasih atas uang tebusan yang dibayar oleh ibunya Maya. (Maesa Ayu, 2005 : 75)
·      Saya beranggapan bahwa Nayla itu seorang lesbian, namun anggapan saya salah. Terbukti dengan kutipan;
“Yangku, saya bukan pecinta perempuan. saya bukan lesbian. Tapi saya pecinta kehidupan. Dan saya akan setia pada kehidupan.” (Maesa Ayu, 2005 : 68)
Akhirnya ia mendapat juga teman yang tidak mencari cinta. Tapi mencari mabuk. Maka dituntunnya laki-laki itu menuju kamar mandi. Dicumbunya di depan pintu. Ditariknya masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi yang tak berlampu. Dibukanya ritsleuting celana laki-laki itu. Dilakukannya semmua yang ingin ia lakukan saat itu, di kamar mandi tak berlampu, dengan laki-laki itu. Dengan laki-laki yang setelahnya mengaku bernama Ben. Laki-laki yang tidak goblog. Laki-laki yang tak mencari cinta, pikir Nayla. (Maesa Ayu, 2005 : 144)
·      Saya pikir Om Indra akan langgeng berhubungan dengan Ibunya Nayla, namun pendapat saya salah. Terbukti dengan kutipan;
Nyatanya ibu putus karena ibu mendapati Om Indra menggauli si pembantu yang hamil. (Maesa Ayu, 2005 : 114)
·      Saya beranggapan bahwa Nayla setelah menerima telepon dari si Bencong, Nayla mematikan teleponnya, namun anggapan saya salah. Terbukti dengan kutipan;
.... Gak taunya telepon dari si Bencong masuk. Bilang lu ketauan makan siang sebelumnya sama si cabo itu.... (Maesa Ayu, 2005 : 150)
·      Saya beranggapan bahwa Nayla akan kerja di diskotek terus, namun anggapan saya salah. Terbukti dengan kutipan:
Kebetulan saat itu Nayla baru saja ditawari seorang produser untuk menggarap skenario dari bukunya. (Maesa Ayu, 2005 : 172)
3.4.4 Gambaran susunan alur/plot secara kualitatif.
Secara kualitatif susunan alur.plot novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah alur erat.
Saya menyimpulkan novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu ini merupakan novel yang mempunyai alur/plot erat, karena ketika kita selaku pembaca melewatkan satu saja kisah atau penggalan cerita, maka kita tidak akan mengerti isi novel ini secara keseluruhan. Misalnya, ketika kita melewati sub-judul “Tentang Seks” maka kita tidak akan mengerti tentang isi cerita dengan sub-judul “Memilih Juli atau Laki-Laki”. Kemudian ketika kita melewati sub-judul “Cerita Pendek” maka kita kita akan mengerti tentang isi cerita dengan sub-judul “Email”. Lalu ketika kita melewati sub-judul “Gelas Bir Terakhir Dengan Ben” maka kita tidak akan mengerti tentang isi cerita dengan sub-judul “Telepon” dan “SMS”.
3.4.5 Gambaran susunan alur/plot secara kuantitaif.
Secara kuatitatif susunan alur/plot novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah alur ganda.
Saya menyimpulkan novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu ini merupakan novel yang memunyai alur/plot ganda, karena mengalami degresi (cerita baru yang masuk). Contohnya, ketika kita membaca sub-judul “Surat Untuk Nayla”. di sana menceritakan surat yang Juli tulis untuk Nayla. Dengan isi surat memberitahukan bahwa Juli akan pergi ke Bandung. Dan Juli tidak kuat dengan hubungan jarak jauh. Juli mengucapkan bersyukur karena selama dua tahun bisa dekat dengan Nayla. dan Juli pun tidak memaksakan ketika Nayla bilang tidak ingin tinggal di Bandung. Juli memberikan kesempatan kepada Nayla akar mempunyai suasana yang “bergerak” untuk dijadikan ahan tulisan. Juli juga memberi tahu bahwa ia lebih memilih hidup menjadi seorang pengajar. Hidup damai dengan kekasihnya yang bisa menerimanya. Di sana berarti dalam cerita itu pengarang menceritakan Juli. Bukan hanya permasalahan putusnya dengan Nayla saja. Namun pengarang menceritakan kehidupan Juli yang akan menjadi pengajar. Dan hidup langgeng dengan kekasih yang menerimanya.
Sub-judul “Gelas Anggur Pertama Dengan Nayla” pun menjadi salah satu bukti bahawa novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu ini mengalami degresi. Dalam sub-judul ini menceritakan bagaimana suasana hati Ben ketika menghadapi yang biasanya Nayla itu tidak berbicara tentang kemarin, tdak masa depan. Namun kali itu Nayla berbeda ketika berbicara mengani masa kecilnya, “Waktu kecil, kami sering minum anggur,”. (Maesa Ayu, 2005 : 146)
Sub-judul “Antara Tidak Percaya dan Percaya” memuat cerita tentang rasa si Ibu yang antara tidak percaya dan percaya ketika melihat bahwa tulisan Nayla itu diterbitkan yang isinya tentang tulisan Nayla yang isinya tentang kekejaman tokoh ibu. Dan ibu sempat tidak percaya juga ketika Nayla menulis kisah tentang Om Indra. Tentang pelecehan yang dilakukan oleh Om Indra.

3.5 Tokoh dan Perwatakan
3.5.1 Tokoh-tokoh cerita yang mendukung terjadinya cerita novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu yaitu:
·      Nayla sebagai tokoh utama karena tokoh Nayla intensitas keterlibatan dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita sangat dominan.
·      Ibu sebagai tokoh penentang karena menjadi lawan tokoh utama (Nayla). Karena dengan kehadiran tokoh Ibu ini konflik yang ada pada tokoh utama.
·      Juli sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Juli tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Ben sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Juli tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Ayah sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Ayah tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Mbak Ratu sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Mbak Ratu tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Si Bencong sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Si Bencong tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Olin sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Olin tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Lidya sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Lidya tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Shanty sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Shanty tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Nathalia sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Nathalia tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Luna sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Luna tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Maya sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Maya tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Yanti sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Yanti tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Wawan sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Wawan tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Broto sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Broto tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Gumilar sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Gumilar tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Tomboy sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Tomboy tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Si Cantik / cabo sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh si Cantik / cabo tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Pak Tardji sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Pak Tardji tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Ardan sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Ardan tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Andjani sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Andjani tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Ibunya Maya sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Ibunya Maya tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Ibu Lina sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Ibu Lina tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Polisi sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Polisi tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Supir Taksi sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Supir Taksi tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Om Indra sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Om Indra tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Om Deni sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Om Deni tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Om Billy sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Om Billy tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Doni sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Doni tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Wartawan Malajah MAJALAH sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Wartawan Malajah MAJALAH tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Wartawan Tabloid TABLOID sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Wartawan Tabloid TABLOID tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
·      Wartawan Koran KORAN sebagai tokoh bawahan yang karena tokoh Wartawan Koran KORAN tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya mendukung tokoh utama (Nayla).
3.5.2 Penggambaran watak tokh-tokoh yang mendukung cerita novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu;
·      Tokoh Nayla mempunyai watak; keras kepala, pemarah, freeseksual, pemabuk, tidak suka menunggu, penakut, kalut, pemalas, fisik pas-pasan, kasar, depresi, frustasi, pekerja keras, glamour, muda, bebas (tidak mau terikat), berpaham liberal, tegar, mentalnya kuat, kasar,
Hal tersebut dapat digamarkan oleh pengarang sebagai berikut:
Ø  Cara langsung atau analitik
... Nayla diam saja. Tak ada sakit terasa. Hanya nestapa. Tak ada takut. Hanya kalut. (Maesa Ayu, 2005 : 2)
Nayla Marah. ... (Maesa Ayu, 2005 : 13)
... Kedua, kamu cantik, masih enam belas tahun pula, ... (Maesa Ayu 50)
... Terlalu boring untuk kamu. Kamu butuh suasana yang “bergerak” untuk bahan tulisan. ... (Maesa Ayu, 2005 : 52)
Saya juga punya pacar. Bukan laki-laki, tapi perempuan. ... (Maesa Ayu, 2005 : 54)
... Tapi untuk urusan perasaan, saya lebih merasa nyaman dengan perempuan. ... (Maesa Ayu, 2005 : 55)
“Ya, saya rasa Nayla emakai narkoba.” (Maesa Ayu, 2005 : 137)
... Dia juga bukan orang gila, mentalnya kuat. ... (Maesa Ayu, 2005 : 139)
... Dan Nayla paling tidak senang menunggu. ... (Maesa Ayu, 2005 : 157)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
... Bersama Juli saya merasakan kehangatan kasih yang perah saya berikan kepada Ibu. Saya mulai diakar cemburu. ... (Maesa Ayu, 2005 : 5)
... Yang laki-laki cuma hit and run. Mereka benar-benar makhluk yang menyebalkan, sekaligus menggiurkan. ... (Maesa Ayu, 2005 : 54)
... Saya akan membuka hati hanya untuk terluka saja. (Maesa Ayu, 2005 : 58)
“Yangku saya bukan pecinta perempuan. Saya bukan lesbian. Tapi saya pecinta kehidupan. Dan saya akan setia pada kehidupan.” (Maesa Ayu, 2005 : 68)
... Pada saat itu Nayla sadar kalai ia pasti bisa bertahan selama punya akal dan mental. Selama ia masih bisa peka terhadap hal-hal yang dianggap tak berarti oleh kebanyakan orang dan menjadikannya sebuah nilai. (Maesa Ayu, 2005 : 76)
“Heh, Setan! Lu tau ya gue belajar dari jalanan! Jangan sampe gue gorok leher lu sekarang!” (Maesa Ayu, 2005 : 89)
“Kenapa ngeliatan gue kayak ngeliatin setan?!” (Maesa Ayu, 2005 : 143)
... Laki-laki yang tidak goblog. Laki-laki yang tak mencari cinta, pikir Nayla. (Maesa Ayu, 2005 : 144)
“Saya tidak mau mencintai, saya tidak mau resmi-resmian”, katanya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 145)
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh
... Seorang laki-laki yang sama-sama datang sendirian. Berdiri di pinggir bar. Berdiri di sebelh Nayla. berdiri menatapnya terpana. (Maesa Ayu, 2005 : 143)
... Persahabatan yan dmulai di kafe itu, kafe yang sudah harum namanya sebagai tempat ngumpul seniman maupun yang ngaku atau merasa seniman. Dan karena itulah, dulu Nayla datang e kafe itu dengan membawa sejumlah buku. ... (Maesa Ayu, 2005 : 158)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
Nayla mengecup bibir Juli sambil berdiri. ... (Maesa Ayu, 2005 : 65)
“Dasar keparat. Anjing kurap. Monyet. Setan. Kontil!”
Baru sekali Juli menyaksikan Nayla marah. (Maesa Ayu, 2005 : 66)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog antara wartawan dengan Nayla
...
“Jadi Mbaktidak setuju dengan konsep masyarakat tentang virginitas?”
“Tidak. Saya belum menikah. Dan saya sudah tidak perawan. Buktinya saya baik-baik aja.”
... (Maesa Ayu, 2005 : 118)
“Gak masalah. Minum alkohol dalam keluarga kami sudah menjadi kultur. Sejka kecil, setiap acara khush makan malam. Ibu selalu menyediakan wine. Saya bleh minum satu gelas. Tapi tidak lebih. Dengan ayah juga begitu.” (Maesa Ayu, 2005 : 119)
Dialog antara wartawan Koran KORAN dengan Mbak Ratu
...
“Kalau Anda, Mbak Ratu?
“Nayla juga anak yang baik”
... (Maesa Ayu, 200 5: 134)
Jadi, tokoh Nayla digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsung 9 kali dan cara tidak langsung 16 dengan berbagai variasinya.
·      Tokoh Ibu mempunyai watak; keras kepala, matrealistis, pemarah, kejam, pemegang teguh prinsip, bangga terhadap diri sendiri (narsisme), glamour, penyuka dim sum, cantik, mandiri, sangat rapi, disiplin, kuat, gagah.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Kita semua tahu ia adalah orang yang sangat keras kepala dan memegang teguh prisnsipnya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 57)
Ibu tidak mendidik Nayla layaknya ibu-ibu lain. Ibu adalah orang yang sangat rapi dan disiplin. ... (Maesa Ayu, 2005 : 96)
... Karena Ibu kuat. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
... Dengan gagah Ibu mengusir Om Indra pergi. ... (Maesa Ayu, 2005 : 114)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan fisik tokoh
... Di mata Om Billy, Ibu adalah perempuan cantik dan mandiri. ... (Maesa Ayu, 2005 : 95)
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
... Dan ketika peniti yang menurut Ibu sudah steril itu ditusukan ke selangkangannya, ia akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. ... (Maesa Ayu, 2005 :1)
... Tapi paling tidak aku tahu kalau aku sudah berhasil menjadikanmu anak yang hebat. ...
... Tak ada yang tersisa. Hanya doa. Hanya Tuhan yang tahu, seagai ibu tak ada satu niatku mencelakakan anaknya. Aku hanya ingin kamu belajar meghadapi pilihan dengan segala konsekuensinya. (Maesa Ayu, 2005 : 17)
... Kata Ibu, tak ada satu rumah makan pun di Jakarta yang bisa menandingi kelezatan dim sum di sana. (Maesa Ayu, 2005 : 94)
... Ibu peduli pada berapa banyak uang yang sudah tersimpan di dalam tas Nayla. ... (Maesa Ayu, 2005 : 95)
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh
Hari itu bukan hari Minggu. Bukan pula Sati. Dua hari di mana Nayla dan Ibu melakukan ritual keluarga. Pergi ke plasa, makan di retoran, atau menginap di hotel bintang lima. (Maesa Ayu, 2005 : 93)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
... Karena itu tak lama setelah Om Billy menghilang dari hadapan mereka, Ibu mengambil tas Nayla. mengeluarkan uangnya. Menghitung di bawah meja. Memasukkan ke dalam tasnya. Dan rasa puas terpancar di wajahnya. (Maesa Ayu, 2005 : 95)
Saya dipukuli ketika menumpahkan sebutir nasi. Tidak rapi kata ibu.
Saya dijemur di atas seng yang panas terakar terik matahari tanpa alas kaki karena membiarkan pensil tanpa kembali menutupnya.
Saya dipaksa mengejm sampai berak lantas diikat dan tahiya direkatkan dengan plester di sekujur tubuh juga mulut saya karena ketahuan tidak makan sayur. (Maesa Ayu, 2005 : 113)
Jadi, tokoh Ibu digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsung 4 kali dan cara tidak langsung 8 kali dengan berbagai variasinya.
·      Tokoh Juli mempunyai watak; lesbian, pemabuk, berangapan buruk tentang laki-laki, karismatik, cemburuan, glamour, blak-blakan.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Tapi Juli mempunyai karisma. ... (Maesa Ayu, 2005 : 4)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan fisik tokoh
... Perawakan dan sikap Juli tak ubahnya seorang laki-laki. ... (Maesa Ayu, 2005 : 4)
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
“Otak laki-laki memang kerdil. Senggama bagi mereka hanya berkisar di seputar kekuatan otot vagina,” kata Juli. (Maesa Ayu, 2005 : 5)
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh
... Dengan sigap Nayla memapah Juli keluar dari dalam toilet menuju meja konsul DJ lalu memesankan Coca Cola dicampur dengan garam. ... (Maesa Ayu, 2005 : 60)
... Juli mengantar saya sampai ke hotel lantas berangkat ke diskotek. ... (Maesa Ayu, 2005 : 101)
... Lihat kamu selalu dikerumuni tamu-tamu tetap teman-teman kita aja aku cemburu, ... (Maesa Ayu, 2005 : 50)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
Juli menindih tubuh Nayla sambil menatapnya. (Maesa Ayu, 2005 : 82)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog antara Juli dengan Nayla
“Oh gitu ya? Aku pikir karena aku yang jagi? Gak taunya Cuma karena itil. Eh, ngomong-ngomong kamu udah nyoba berapa cowok?
“Kok nanyanya gitu?”
“Katanya harus terbuka. Selama ini kamu Cuma bilang gak ada yang bisa muasin kamu kecuali aku. Gak ada yang bisa kan berarti lebih dari satu. Lagian wajar dong aku tanya, kita kan udah hampir setahun.”
(Maesa Ayu, 2005 : 83)
Jadi, tokoh Juli digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsung 1 kali dan cara tidak langsung 6 kali dengan berbagai variasinya.
·      Tokoh Ben mempunyai watak pemabuk, penyayang, suka ngegombal, tidak mau disalahkan atas kesalahan yang diperbuatnya, pembohong, suka seks, cepat mengeluh.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
Sender:
Ben
08168182
Sent:
01:15:00
12-01-2000
Yang, kamu bener-bener gak fair deh. Apa sih salahku? Kamu kan yang cari masalah duluan. Gak ada angin gak ada hujan gak isa dihubungi. Pokoknya aku gak salah. Tidak. ... (Maesa Ayu, 2005 : 34)
“Kamu sedikit-sedikit seks, seks, seks. Kalo sayang dibilag karena seks. Kallo berubah sedikit, dibilag karena seks. Lama-lama aku capek juga nih!” (Maesa Ayu, 2005 : 88)
“Oke, aku anjing. Tapi kamu inget ya, anjing pun punya limit!” (Maesa Ayu, 2005 : 89)
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh
Nayla merasa laki-laki itu senang mabuk dan senang sendirian. Setlai tiga uang, pikir Nayla. Akhirnya ia mendapat juga te,a yang tidak mencari cinta. Tapi mencari mabuk. Maka dituntunya laki-laki itu menuju kamar mandi. Dicumbunya di depan pintu. Ditariknya ritsleuting celana laki-laki itu. Dilakukannta semua yang ingin ia lakukan saat itu, di kamar mandi tak berlampu, dengan laki-laki itu. Dengan laki-laki yang setelahnya mengkau bernama Ben. Laki-laki yang tidak goblog. Laki-laki yang tak mencari cinta, pikir Nayla. (Maesa Ayu, 2005 : 144)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
Bukannya marah laki-laki itu malah tersenyum ke arah Nayla. menawari Nayla minum. Dan berbincang-incang seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti tidak aneh karena Nayla datang sendirian. Seperti tidak aneh dengan sapa kasar Nayla kepadanya barusan. .... (Maesa Ayu, 2005 : 143)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog Cantik dengan Ben melalui telepon.
Halo, Ben.
Halo, Cantik. Kamu masih pemotretan?
Iya, sebentar lagi juga selesai.
Mau dijemput?
Loh? Bukannya malam ini kamu mesti ngapel binik?
Ya sih. Tapi tiba-tiba males. Kepikiran kamu terus.
Gombal deh kamu.
.... (Maesa Ayu, 2005 : 27)
Jadi, tokoh Ben digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 4 kali dengan berbagai variasinya.
·      Tokoh Ayah mempunyai watak ramah, berjiwa seni (seniman), keras kepala, peminum minuman keras namun setelah bertemu Mbak Ratu tidak pernah minum lagi.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
... Andaikan tadi Nayla mau ikut Ayah dan Mbak Ratu pergi jalan-jalan malam pun, Ayah tidak akan melarang. ... (Maesa Ayu, 2005 : 168)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh  terhadap suatu peristiwa
 “Mana di antara kalian yang bernama Nayla?” (Maesa Ayu, 2005 : 12)
“Sssttt... Nayla uda tidur, kecapean. Jangan diganggu.”
Lalu mereka menutup pintu, meniggalkan Nayla yang pura-pura tidur. Begitu pintu tertutup, Nayla membuka matanya, terlentang menatap atap kayu kamar.
Hampir sama kejadiannya. Dulu Ibu juga mengtakan itu kepada teman kencannya. Tapi kali ini rasanya beda ketika Ayah yang mengatakannya kepada Mbak Ratu. ... (Maesa Ayu, 2004 : 167)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog antara Ibu dan wartawan Tabloid TABLOID yang sedang membicarakan Ayah.
...
“Sudah lama, saya bertemu beliau setahun lebih yang lalu sampai tiga bulan kami pacara, langsung menikah. Saat itu memang beliau sudah sakit-sakitan. Harusnya banyak istirahat. Tapi beliau memang keras kepala. Kalau sudah nulis jadi lupa waktu. Lupa makan. Lupa segalanya.”
“upaya apa yang selama ini Anda lakukan supaya Bung Radja peduli dengan kesehatan?”
“Tidak ada. Anda tahu, saya perancang. Saya seniman. Jadi saya mengerti benar bahwa kreativitas seniman tidak isa dibendung, apalagi seniman besar seperti beliau. Berkarya adalah hidupnya. Jika saya meredamnya, berarti saya mematikan soul-nya.”
“Tapi... maaf, Mbak. Tapi kan pada akhirnya justru membuat beliau cepat pergi.”
“Tapi beliau pergi tanpa beban. Sebagai istri saya hanya bisa menemani dan memberi dukungan. Mengingatkan beliau makan, mengingatkan beliau untuk istirahat. Dan karenalah jika kami sedang nyaman untuk beristirahat selepas berkarya.”
“Apa saja yang Anda lakukan ketika berdua?”
“Ya semua hal yang dilakukan suami istri.”
“Apa penyakit ung juga disebabkan karena terlalu banyak minum minuman keras?”
“Itu dulu. Tapi setelah ketemu saya, beliau sudah tidak pernah minum lagi. Hanya minum anggur sesekali jika mai sedang makan malam bersama. Bung, saya dan Nayla.”
.... (Maesa Ayu, 2005 : 133)
Jadi, tokoh Ayah digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 3 kali dengan berbagai variasinya.
·      Tokoh Om Indra mempunyai watak parafilia, pedofilia, kurang ngajar, tidak punya sopan santun, pembohong, hypersex, pengeretan.
Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup keterkaitan seksual terhapa ojek yag tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Seseorang dapat memiliki perilaku fantasi, dan dorongan seperti yang dimiliki seorang parafilia (seperti memamerkan alat kelamin kepada orang asing yang tidak memiliki kecurigaan apa pun atau berkahyal melakukan itu). (Gerald dkk, 2006 : 621)
Pedofilia. Menurut DSM, pedofil (pedos, berarti “anak” dalam bahasa Yunani) adalah kontak fisik dan sering kali seksual dengan anak-anak prapubertas yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. DSM-IV-TR mensyaratkan para pelakunya minimal berusia 16 tahun dan minimal 5 tahun eih tua dari si anak. Namun, penelitian tampaknya tidak medukung pertanyaan DSM bahwa semua pedofil lebih menyukai anak-anak prapubertas; beberapa di antaranya menjadikan anak-anak pascapubertas sebagai korannya, yang secara hukum belum cukup umur untuk diperbolehkan melakukan hubungan skes dengan orang dewasa (Marshall, 1997 (dalam Gerald, dkk-Psikologi Abnormal, 2006 : 623)
Hypersex adalah gangguan yang diderita baik perempuan maupun laki-laki yang ingin seseringmungkin melakukan hubungan seksual.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Terkecoh hingga tak menyadari jika pacar yang dicintainya itu tak lebih dari seorangan pengeretan dan pemerkosa anak kandungnya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 142)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
... Om Indra kerap mengeluarkan penis dari dalam celananya hanya untuk sekejap menunjukannya kepada saya. Om Indra juga sering datang ke kamar ketika saya belajar dan mengesek-gesekkan penisnya ke tengkuk saya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 113)
... Om Indra tidak hanya mengeluarkan atau menggesek-gesekkan penisnya ke tengkuk saya. Ia memasukkan penisnya itu ke vagina saya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 113)
... Ibu mendapati Om Indra menggauli si pemantu yang hamil. ... (Maesa Ayu, 2005 : 114)
... Om Indra tinggal di rumah dan tidur di kamar ibu. (Maesa Ayu, 2005 : 96)
Tapi Om Indra tidak saja leluasa tidur di kamar Ibu. Om Indra juga mandi di kamar mandi Ibu. Om Indra juga memegang kunci duplikat. Ia bisa datamg dan pergi kapan saja dengan bebas. ... (Maesa Ayu, 2005 : 97)
Jadi, tokoh Om Indra digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara cara langsug 1 kali dan cara tidak langsung 5 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.
·      Tokoh Mbak Ratu mempunyai watak ramah, baik, suka ngjudge, pengertian, seorang perancang busana.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
“Ya, saya rasa Nayla memakai narkoba.” (Maesa Ayu, 2005 : 137)
Tidak, tapi ada beberapa perubahan yang sangat mencolok dan kurang wajar. Dia sering bolos sekolah. Dia kadan-kadang tertawa tanpa sebab. Dia...” (Maesa Ayu, 2005 : 137)
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh
Bukan. Saya tak mencari Ayha saya hanya menyebut nama Ayah ketika seorang perempuan muda, perancang usana ternama, muncul di balik pintu. (Maesa Ayu, 2005 : 10)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
... Seketika ia tersenyum cerah da mempersilahkan kami masuk. Katanya, ia memang berniat menyusul suaminya di rumah peristirahatan mereka. Masih di dalam kota. Mereka selalu ke sana untuk berkarya. (Maesa Ayu, 11)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog antara Mbak Ratu dengan wartawan Koran KORAN.
“Upaya apa yang selama ini Anda lakukan supaya Bung Radja peduli dengan kesehatan?”
“Tidak ada. Anda tahu, saya perancang busana. Saya seniman. Jadi saya mengerti benar bahwa kreativitas seniman tidak bisa dibendung, apalagi seniman besar seperti beliau. Berkarya adalah hidupnya. Jika saya meredamnya, berarti saya mematikan soul-nya. (Maesa Ayu, 2005 : 132)
Jadi, tokoh Mbak Ratu digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 4 kali dengan berbagai variasinya.
·      Si Bencong mempunyai watak propokator, setia kawan, penggosip.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
“Suntik kurus dong, Mak... Body lu udah gak asik anget deh diliatnya. Gue Banci aja gak nafsu, gimana lekong?” kata si Bencong. (Maesa Ayu, 2005 : 159)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
“Kena sipilis juga dong! Senima an baru besar kalo udah kena sipilis!” tambah si Bencong. (Maesa Ayu, 2005 : 159)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog si Bencong dengan Nayla melalui telepon,
Halo, Cong... Kenapa? Gue lagi teleponan ama Olin...
Udah matiin dulu. Penting nih gosip terbaru.
Gosip apaa?
Makanya matiin dulu. Lu ama gue kasih tau apa enngak?
Ok. Lin, sin Bencong ada gosip! ... (Maesa Ayu, 2005 : 24)
Jadi, tokoh si Bencong digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 3 kali dengan berbagai variasinya.
·      Olin mempunyai watak setia kawan, friendly, anak gaul metropolitan.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
....
“Hi, Say. Di mana?
.... (Masa Ayu, 2005 : 23)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog antara Nayla dengan Liyda melalu SMS,
Payah lu jadi temen. Gak usah nutupin. Gue udah tau dari si Bencong. Sekarng gue lagi di fluid ama dia. Olin otw. (Marsa Ayu, 2005 : 31)
Jadi, tokoh Olin digambarkan wataknya dengan cara tidak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 2 kali dengan berbagai variasinya.
·      Lidya mempunyai watak setia kawan, friendly, anak gaul metropolitan.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
Ya ampun! Dasar banci! Bukannya gue nutupin,say. Ya sudlah. Gue nyusu ke sana nanti gue jelasin. C. U. (Maesa Ayu, 2005 : 32)
Jadi, tokoh Lidya digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara tidak langsung 1 kali dengan menggambarkan jalan pikiran tokoh..
·      Luna mempunyai watak tidak  mudah panik, berani, cuek,
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
“Tenang aja, May. Kasih senyum aja belagak begok!” (Maesa Ayu, 2005 : 71)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
... Luna memegang belati. ... (Maesa Ayu, 2005 : 70)
Luna bergegas keluar membanting pintu. ... (Maesa Ayu, 2005 : 80)
Jadi, tokoh Luna digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 2 kali dengan berbagai variasinya.
·      Maya mempunyai watak mudah panik, takut.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
...
“Duh gimana nih, Lun!”
...
“Belagak begok gimana, Lun? Kita udah dibawa ke polsek nih!”
(Maesa Ayu, 2005 : 71)
Jadi, tokoh Maya digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 1 kali dengan jalan pikiran tokoh.
·      Yanti mempunyai watak waspada.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
... Yanti berjaga-jaga. ... (Maesa Ayu, 2005 : 70)
Jadi, tokoh Yanti digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 1 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi terhadap suatu peristiwa.
·      Wawan mempunyai watak suka terlambat, penulis, motivator.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Broto, Gumelar, Tomboy, dan Wawan, teman-teman barunya yang penulis senior. ... (Maesa Ayu, 2005 : 110)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
... Coba lebih sabar. Kalo ad aide diendapkan dulu. Pasti hasilnya bisa lebih baik. Selamat berkarya ya. (Maesa Ayu, 2005 : 45)
Jadi, tokoh Wawan digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsung 1 kali dan cara tidak langsung 1 kali dengan menggambarkan jalan pikiran tokoh.
·      Broto mempunyai watak suka terlambat, penulis, teoritis,  teliti.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Broto, Gumelar, Tomboy, dan Wawan, teman-teman barunya yang penulis senior. ... (Maesa Ayu, 2005 : 110)

Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
...
Djeng Nay, saya pikir cerpen kamu ini stream of consciousness. Virgina Wolf, penulis perempuan, pake gaya ini. ... (Maesa Ayu, 2005 : 44)
Jadi, tokoh Broto digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsung 1 kali dan cara tidak langsung 2 kali dengan menggambarkan jalan pikiran tokoh.
·      Gumilar mempunyai watak suka terlambat, penulis, motivator.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Broto, Gumelar, Tomboy, dan Wawan, teman-teman barunya yang penulis senior. ... (Maesa Ayu, 2005 : 110)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh
Nay, cona aja kamu kirim lagi ke koran kampus. Feelingku cerpen yang ini bisa diterima. Selamat ya! ... (Maesa Ayu, 2005 : 44)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
Dialog Nayla dengan Gumilar lewat email;
...
Yang bener nih? Kucoba lagi deh. Maju terus pantang mundur! Thanks supportnya doain dimuat ya kali ini! ... (Maesa Ayu, 2005 : 46)
Jadi, tokoh Gumilar digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsung 1 kali dan cara tidak langsung 2 kali dengan berbagai variasinya.
·      Tomboy mempunyai watak suka terlambat (tidak tepat waktu), penikmat bacaan seks, suka nulis, ramah.
Ø  Cara langsung atau analitik
... Broto, Gumelar, Tomboy, dan Wawan, teman-teman barunya yang penulis senior. ... (Maesa Ayu, 2005 : 110)
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh
... Broto, Gumelar, Tomboy, dan Wawan, teman-teman barunya yang penulis senior. ... (Maesa Ayu, 2005 : 110)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa
Subject: Re: cerpen
Date: 12 Januari 2000 9: 59 AM
Nay, oke ko cerpen luh. Pasti lagi sebel sama Ben ya?
PS: kurang adegan seksnya! (Maesa Ayu, 2005 : 45)
Jadi, tokoh Tomboy digambarkan wataknya dengan cara campuran, dengan perincian cara langsun 1 kali dan cara tidak langsung 2 kali dengan berbagai variasinya.
·      Pak Tardji mempunyai watak penurut
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
Seperti iasa, Pak Tardji, sopir pribadi kami, ...
... Saya bisa menyurh Pak Tardji parkir mobil di tempat yang sepi. (Maesa Ayu, 2005 : 9)
Jadi, tokoh Pak Tardji digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung  1 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.
·      Ardan mempunyai watak perokok, rasa penasaran tinggi, friendly.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh;
... sahabat yang dikenalnya ketika sedang di interview salah satu radio di Bandung. ... (Maesa Ayu, 2005 : 172)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
Ardan memain-mainkan puntung rokoknya yang sedari tadi belum dinyalakan sambi berpikir. ... (Maesa Ayu, 2005 : 171)
... Melihat reaksi Nayla, Ardan jadi gemas. (Maesa Ayu, 2005 : 171)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh
...
“Mah, masalah sebenernya bukan wartawan kan?”
... (Maesa Ayu, 2005 : 173)
Jadi, tokoh Ardan digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 3 kali dengan berbagai variasinya.
·      Andjani mempunyai watak tidak suka AC
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
... Beberapa kali Andjani berusaha memalingkan wajahnya berusaha menghindari kepungan dingin Ac. Wajahnya tampak streess. ...
Jadi, tokoh Andjani digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung  1 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.
·      Ibunya Maya mempunyai watak peduli, baik
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
... Nayla masih setengah bermimpi ketika melangkah keluar Polsek dan mengucapkan terima kasih atas uang tebusan yang dibayar untuknya oleh Ibunya Maya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 75)
Jadi, tokoh Ibunya Maya digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 1 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.
·      Ibu Lina mempunyai watak disiplin, penyayang, pengertian, peduli, baik.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh;
Aku merasa gagal. Merasa dikhianati. Kenapa Nayla harus melarikan diri? Padahal aku meyakinkannya untuk bersabar. ... (Maesa Ayu, 2005 : 20)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
... Tak seperti dua pembina lain, Bu Lina memanjakan saya. Ia sering berpura-pura memberi saya tuga menyeterika di kamarnya, dan saya diperbolehkan nonton tivi. Setelah selesai menyetrika, saya diperolehkan membaca atau menulis. ... (Maesa Ayu, 2005 : 21)
Jadi, tokoh Ibu Lina digambarkan wataknya dengan cara tidak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 2 kali dengan berbagai variasinya.
·      Polisi mempunyai watak galak, kasar, rasa tidak percaya yang tinggi.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh;
“Gak usah Plirak-plirik! Ngapain kalian pada bawa senjata tajam malam-malam. Mutere-muter gak kasih arah tujuan ke sopir taksi! Belum pernah ngerasain jempol kamu ditiban meja, ya!” (Maesa Ayu, 2005 : 73)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
Kepala Nayla terejungkal ke belakang ketika seorang polisi yang sedang berdiri menjambak rambutnya. (Maesa Ayu, 2005 : 73)
­          Dengan menggambarkan dialog para tokoh;
Dialog tokoh (Polisi) dengan tokoh lain (Nayla)
...
“Kok, kayak judul film?” ngarang kamu, ya?”
“Enggak, beneran!”
... (Maesa Ayu, 2005 : 73)
Jadi, tokoh Polisi digambarkan wataknya dengan cara tak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 3 kali dengan berbagai variasinya.
·      Supir Taksi mempunyai watak waspada, pencuriga.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
... Kehilatannya, sopir taksi pun mulai curiga. Dan tiba-tiba saja, taksi berbelok kiri secara mendadak. Berhenti di depan Polsek Jakarta Barat. (Maesa Ayu, 2005 : 71)
Jadi, tokoh Supir Taksi digambarkan wataknya dengan cara tak langsung atau dramatik, dengan perincian cara tidak langsung  1 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.
·      Om Deni mempunyai watak; darah keturunan Tionghoa, centil.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan fisik tokoh;
... Dadanya tegap. Potongan ramutnya klimis. Kulitnya putih bersih. Sepertinya Om Deni punya darah keturunan Tionghoa. (Maesa Ayu, 2005 : 96)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
“Ini untuk jajan ya, Sayang...”
Lalu mengedipkan matanya. (Maesa Ayu, 2005 : 97)
Jadi, tokoh Om Deni digambarkan wataknya dengan cara cara tak langsung atau dramatik, dengan perincian cara tidak langsung 2 kali dengan berbagai variasinya.
·      Om Billy mempunyai watak; Rambutnya sedikit ikal, perutnya bucit, kagum terhadap Ibu, seorang birokrat, menyukai safari.
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan fisik tokoh;
... Rambutnya sedikit ikal dengan kumis melintang di bawah hidungnya. Perawakannya tidak terlalu besar, namun perutnya yang bucit memuat tubuhnya kelihatan tidak proposional. (Maesa Ayu, 2005 : 94)
­          Dengan menggambarkan jalan pirikan tokoh;
... Dan yang terpenting, Nayla mampu memahami hubungan Ibu dengan Om Billy. Semua itu menambah kekaguman Om Billy terhadap Ibu yang bisa mendidik Nayla seperti itu. (Maesa Ayu, 2005 : 95)
­          Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh;
Maka ketika Om Billy yang jadwalnya sebagai birokrat... (Maesa Ayu, 2005 : 95)
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
... Om Billy selalu mengenakan safari. ... (Maesa Ayu, 2005 : 94)
Jadi, tokoh Om Billy digambarkan wataknya dengan cara tak langsung atau dramatik, dengan perincian cara tidak langsung 4 kali dengan berbagai variasinya.
·      Doni mempunyai watak sopan
Ø  Cara tak langsung atau dramatik
­          Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa;
Subecjt: Re: cerpen
Date: 25 Januari 200 1: 37 PM
Kepada Yth. Sdri Nayla Kinar.
Pada tanggal 12 Januari 2000, kami menerima cerita pendek “Laki-laki Binatang!” melalui email. Mohon maaf, kami tak bisa memuat cerita pendek Anda karena tak ada ruang.
Hormat kami,
Redaksi (Maesa Ayu, 2005 : 48)
Jadi, tokoh Doni digambarkan wataknya dengan cara tidak langsung, dengan perincian cara tidak langsung 1 kali dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.

3.6 Latar atau Setting
·      Latar Tempat
a.       Blok M, Sudirman, Bundaran Patung Api, Thamrin.
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
.... Saya terbang melewati mobil-mobil yang merayap sepanjang jalan Blok M, menuju Sudirman. Menelingkung di bundaran patung api. Berhenti di sebuah halte bus di bilangan Thamrin. ... (Maesa Ayu, 2005 : 10)
b.      Di Fluid
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Payah lu jadi temen. Gak usah nutupin. Gue udah tau dati si Bencong. Sekarang gue lagi di fluid ama dia. Olin otw. (Maesa Ayu, 2005 : 31)
c.       Pantai Kuta – Bali.
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Pandati Kuta ramai dipenuhi turis internasional maupun lokal. (Maesa Ayu, 2005 : 169)
d.      Rumah Perawatan Anak Nakal Dan Narkotika
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
.... Tanpa rasa curiga, Nayla menyanggupi melihat kondisi si korban. Tapi begitu herannya ia ketika mereka tidak menuju Polda, melainkan Rumah Perawatan Anak Nakal dan Narkotika. ... (Maesa Ayu, 2005 : 13)
e.       Diskotek
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
.... Perhatian pengunjung di lantai dansa serta merta tersita ke arah konsul DJ yang terlihat kosong dari bawah karena ke para juru musik dan juru lampu semuannya sedang ngegelosor di lantai. Nayla yang paling sadar, berinisiatif mengambil lagu slow dari dalam rak lalu segera memutarnya karena tidak paham bagaimanan memainkan lagu. ... (Maesa Ayu, 2005 : 60)
f.       Kamar Kos
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Mungkin terlalu banyak hal yang menggangu pikiran Juli ketika ia melihat kamar kos Nayla sehingga malam itu nafsunya surut. ... (Maesa Ayu, 2005 : 64)
g.      Hotel
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
... diambilnya tas besar di bahu kiri Nay;a dan memindahkannya ke bahunya sendiri. Lantas mereka berjalan bergandengan menuju lobby. Tamu-tamu dan karyawan hotel yang berpapasan dengan mereka langsung melirik dan berbisik. ... (Maesa Ayu, 2005 : 65)
h.      Polsek
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Kelihatanya, sopir taksi pun mulai curiga. Dan tiba-tiba saja, taksi berbelok kir secara mendadak. Berhenti di depan Polsek Jakarta Barat. (Maesa Ayu, 2005 : 71)
Kepala Nayla terjungkal ke belakang ketika seorang polisi yang sedang berdiri menjambak rambutnya. (Maesa Ayu, 2005 : 73)
i.        Terminal
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
... Ia mengusir Nayla pergi, seolah ia sudah menguasai tempat ini. Betul saja, begitu Nayla bangkit berdiri, Pak Tua merebahkan tubuhnya di atas angku terminal itu. (Maesa Ayu, 2005 : 75)
j.        Pertokoan
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Hari itu hari Rabu. Tapi Nayla sedang berjalan si sebuah pertokoan menamani Ibu. (Maesa Ayu, 2005 : 93)
k.      Rumah makan
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Ibu memesankan Nayla minuman serupa dengan yang dipesannya. Jus dari beberapa campuran buah segar, stroberi, leci, dan pepaya. (Maesa Ayu, 2005 : 94)
l.        Rumah Ayah dan Mbak Ratu
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
“Belum pulang sekolah. Sebentar lagi harusnya pulang. Nah, itu dia pulang.” (Maesa Ayu, 2005 : 134)
m.    Rumah Ibu
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
... Saya dijemur di atas seng yang panas terbakar terik matahari tanpa alas kaki karena membiarkan pensil tanpa kembali menutupnya. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
n.      Toko Buku dan Kafe
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
“Di sini tempatnya enak juga ya, Mbak. Tadinya saya pikir kok Mbak Nayla minta di-interview di toko. Gak taunya ada kafenya.” (Maesa Ayu, 2005 : 118)
·      Latar Waktu
a.       Tahun 1987
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Sub-judul; Catatan Harian Ibu Lina, 5 Agustus 1978, Catatan Harian Nayla, 19 Juli 1987, Catatan Harian Nayla, 18 Juli 1987, Catatan Harian Ibu Lina, 28 Oktober 1987, Catatan Harian Ibu Lina, 27 Otkober 1987, Catatan Harian Nayla, 30 Oktober 1987.
b.      Tahun 1989
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Tanggal pembuatan surat untuk ibu dari Nayla;
Jakarta, 11 November 1989. (Maesa Ayu, 2005 : 55)
c.       Tahun 1991
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Tanggal pembuatan surat untuk Nayla dari Juli; Jakarta, 21 Juli 1991. (Maesa Ayu, 2005 : 52)
d.      Tahun 1998
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Tanggal pembuatan surat ayah dari Nayla;
Jakarta, 18 Februari 1998. (Maesa Ayu, 2005 : 58)
e.       Tahun 2000
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
SMS yang dikirimkan Nayla, Lidya, dan Ben

Sender:
Nayla
08169192
Sent:
21:03:35
11-01-2000
Sender:
Lidya
08118393
Sent:
21:04:14
11-01-2000
Sender:
Ben
08168182
Sent:
00:59:37
12-01-2000

(Maesa Ayu, 2005 : 31-33)
Tanggal pembuatan cerpen Nayla;
Jakarta, 12 Januari 2000 1:56:05 PM. (Maesa Ayu, 2005 : 42)
Subject: cerpen
Date: Sat, 12 Januari 2000 3:03 (Maesa Ayu, 2005 : 43)
f.       Tahun 2002
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Tanggal pengiriman email dari Nayla untuk Gumelar;
Date: 13 Januari 2002 2:20 PM (Maesa Ayu, 2005 : 46)
g.      Tahun 2004-2005
Terbukti dengan adanya tanggal peristiwa pembuatan film di Bali;
Jakarta, Desember 2004-April 2005 (Maesa Ayu, 2005 : 178)
·      Latar Lingkungan Sosial
a.  Glamour
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini;
... Dengan sigap Nayla memapah Juli keluar dari dalam toilet menuju konsul DJ lalu memesankan Coca Cola dicampurkan dengan garam. ... (Maesa Ayu, 2005 : 60)
b.  Ekonomi rendah
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
... Tidak hanya suara derit ranjang yang tengah di tidurinya berdua Nayla, tapi juga ranjang-ranjang kayu reyot lain di samping kanan dan kiri dan sebrang kamar. ... (Maesa Ayu, 2005 : 62)
c.  Metropolitan
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
Lu tau Ben lagi deket sama cewek? (Maesa Ayu, 2005 : 31)
Dialek orang Jakarta (Betawi).
d. Berbudaya barat
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
“Gak Masalah. Minum alkohol dalam keluarga kami sudah menjadi kultur. Sejak kceil, setiap ada acara khusus makan malam. Ibu selalu menyediakan wine. Saya boleh minum satu gelas. Tapi tidak lebih. Dengan Ayah juga begitu.” (Maesa Ayu, 2005 : 119)
·      Latar Suasana
a.    Tragis
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
1.    Ketika peniti yang menurut Ibu sudah steril itu ditusukan ke selangkangan, ia akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. (Maesa Ayu, 2005 : 1)
2.    Tak hanya selangkangan Nayla yang ditusukinya. Tapi vaginanya. (Maesa Ayu, 2005 : 2)
3.    Saya dipukuli ketika menumpahkan sebutir nasi. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
4.    Saya dijemur di atas seng yang panas terbakar terik matahari tanpa alas kaki karena membiarkan pensil tanpa kembali menutupnya. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
5.    Saya dipaksa mengejam sampai berak lantas diikat dan tahinya direkatkan dengan plester di sekujur tubuh juga mulut saya karena ketahuan tidak makan sayur. (Maesa Ayu, 2005 : 112)
b.    Menyedihkan
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
1.    “Anak-anak, pagi ini Nayla melantai...” (Maesa Ayu, 2005 : 15)
2.    Lalu, apakah yang selama ini saya lakukan? Apakah saya sudah melakukan kesalahan besar? Apakah sebaiknya saya berteriak ketika ia sedang menggesekkan penisnya ke tengkuk saya. Apakah seharusnya saya melawan ketika penisnya menghunus lubang vagina saya? Apa yang harus saya lakukan? Mengatakan semuanya kepada ibu? Apa reaksi ibu? Apakah ia akan menusuki vagina saya tidak hanya dengan peniti tapi dengan linggis. ... (Maesa Ayu, 2005 : 114)
c.    Prihatin
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
1.    Saya diterima, Ibu. Gaji pertama saya dua ratus ribu. Akhirnya saya bisa membayar perbulan untuk sewa kamar, walaupun teman-teman yang datang sering bilang kamar saya persisi kandang ayam. (Maesa Ayu, 2005 : 54)
d.   Berduka Cita
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
1.    “Selamat pagi, Mbak Ratu. Kami dan segenap karyawan Majalah MAJALAH menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.” (Maesa Ayu, 2005 : 130)
e.    Keakraban
Hal tersebut dapat dilhat dari bukti di bawah ini;
1.    Nayla menggelitik Juli hingga keduanya terjatuh dari ranjang ke lantai karpet. ... (Maesa Ayu, 2005 : 81)

3.6 Gaya Pengarang
·      Gaya pengarang (Djenar Maesa Ayu) dalam mengungkapkan seluruh cerita pada novel Nayla;
1.      Pengarang mengungkapkan novel Nayla dengan bentuk penulisan ada yang berjenis; catatan harian, surat, sms, email, dan cerpen. (cerpen di dalam novel).
2.      Pengarang mengungkapkan Novel ini dengan alur sorot balik/flash back.
3.      Pengarang menyampaian novel ini ada yang berbentuk semi dramatik, ketika dalam sub-judul Di Antara Dua Sifat, nama Nayla dan nama Kinar berdialog. Walaupun Nayla dan Kinar itu merupakan nama satu orang. Dalam konteksnya saya melihat bahwa dialog tersebut seperti naskah drama. Nayla sedang bermonolog dengan dua karakter yang ada dalam dirinya.
4.      Pengarang mengungkapkan novel Nayla dengan gaya deskriptif, terbukti dengan kutipan;
Ia akhirnya menghilang. Sudah dua malam langit tak berbintang. ... (Maesa Ayu, 2005 : 107)
·      Gaya Bahasa yang banyak dituangkan pengarang dalam memperkuat certa novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu sebagai berikut;
1.      Berdasarkan Segi Nonbahasa; Pengikut Aristoteles menerima style sebagai hasil dari bermacam-macam unsur. (Keraf, 2010 : 115)
a.       Berdasarkan Tempat: gaya ini mendapat namanya dai lokasi geografis, karena cir-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasanya. (Keraf, 2010 : 116) Pengarang (Djenar Maesa Ayu) dalam novel Nayla menggunakan gaya betawi, karena latar lingkungan tempat peristiwa-peristiwa terjadi di daerah Jakarta. Terbukti dengan kutipan;
Halo?
Hi, Say. Di mana?
Hi, Lin. Gimana sih? Emangnya lu telepon ke mana?
Hehehe... iya juga ya... maksud gue, lu mau ke mana...
(Maesa Ayu, 2005 : 23)
Kata “lu” dan kata “gue” merupakan kata-kata dari bahasa betawi (Jakarta).
b.      Berdasarkan Tujuan: gaya berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang disampaikan oleh pengarang, di mana pengarang ingin mencurahkan gejolak emotifnya (gaya humor, gaya sarkastik, gaya sentimental, gaya diplomatik, gaya agung atau luhur, gaya teknik atau informasional. (Keraf, 2010 : 116) Terbukti dengan kutipan dengan gaya humor;
“Suntik kurus dong, Mak... Body lu udah ga asik banget deh diliatnya. Gue banci aja gak nafsu, gimana lekong!” kata si Bencong. (Maesa Ayu, 2005 : 159)
Kata “Mak” pada kutipan di atas menunjukan bahwa si Bencong dapat dibilang sudah cukup akrab dengan Nayla.
c.       Berdasarkan Masa: gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Misalnya ada gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern, dan sebagainya. (Keraf, 2010 : 116) Terbukti dengan kutipan;
Saya juga punya pacar. Bukan laki-laki. Tapi perempuan. Yang laki-laki Cuma hit and run. ... (Maesa Ayu, 2005 : 54)
Kata “hit and run” merupakan kata-kata dari bahasa Inggris. Ketika saya melihat ini merupakan cerita yang terjadi di Jakarta lalu kemudian pengarang menggunakan kata “hit and run”, say menyimpulkan bahwa ini termasuk pengungkapan cerita dengan gaya bahasa modern.
d.      Berdasarkan Subjek: subjek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Berdasarkan hal ini kita mengenal gaya: filsafat, ilmiah (hukum, teknik, teknik, sastra, dsb), populer, didaktik, dan sebagainya. (Keraf, 2010 : 116) Menurut saya pengarang mengungkapkan dengan gaya bahasa berdasarkan subjek (biologi) dan (seksiologi). Terbukti dengan kutipan;
... Tapi juga vaginanya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 2)
Kata “vagina” merupakan istilah dalam bidang ilmu biologi yang artinya alat kelamin perempuan.
... Saya bukan lesbian. ... (Maesa Ayu, 2005 : 68)
Kata “lesbian” merupakn istilah dalam bidang ilmu seksiologi yang artinya perempuan yang suka pada perempuan.
2.      Berdasarkan Segi Bahasa; dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, yaitu; gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana; gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat; gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
a.       Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat tidaknya dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam mengahadapi situasi-situasi tertentu. Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapat dibedakan; gaya bahasa resmi, gaya bahasa tidak resmi, gaya percapakan. (Keraf, 2010 : 117) Menurut saya, pengarang menggunakan gaya bahasa tidak resmi dan gaya bahasa percakapan. Gaya bahasa tidak resmi merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Bentuknya tidak terlalu konservatif. (Keraf, 2010 : 118) Gaya Bahasa Percakapan merupakan gaya bahasa yang pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. (Keraf, 2010 : 120) Terbukti dengan kutipan;
Gaya Bahasa Tidak Resmi:
Jika Anda ditanya, pernahkah mengalami pelecehan seksual? Anda mungkin menjawab ya. Anda mungkin menjawab tidak. Tapi agi yang menjawab tidak, bukan berarti Anda benar-benar tidak pernah mengalami pelecehan seksual. Lantas kenapa harus menjawab tidak padahal pernah mengalami? Karena Anda perempuan. kenapa perempuan tidak bisa mengatakan kebenaran? Karena perempuan tidak dibiarkan tahu kebenaran. (Maesa Ayu, 2005 : 84)
Gaya Bahasa Percakapan:
Tapi apakah saya perlu merasa berhutang pada Juli? Tidakkah ia melakukan semua itu karena cinta? Dan cinta tak pernah jelas untuk siapa. Ia melakukannya bukan untuk saya, tapi untuk kepentingan dirinya juga. Jika Juli tidak mencintai saya, ia akan hancur. Dan kehancuran itu bukan milik saya tentunya. Kehancuran itu milik Juli. Cinta yang ia berikan kepada saya sekarang ini adalah bentuk dari cintanya pada diri sendiri. (Maesa Ayu, 2005 : 100)
b.      Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana, gaya bahasa ini didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Gaya bahasa dilihat dari sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas; gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah. Menurut pendapat saya, pengarang (Djenar Maesa Ayu) dalam novel Nayla menggunakan gaya bahasa sederhana, gaya mulia dan bertenaga, dan gaya menengah. Gaya sederhana, gaya ini biasanya cocok untuk meberi instruksi, perintah pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. (Keraf, 2010 : 121) Gaya mulia dan bertenaga, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, dan biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. (Keraf, 2010 : 122) Gaya menengah, gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senag dan damai. (Keraf, 2010 : 122) Terbukti dengan kutipan;
Gaya sederhana:
Buruan! (Maesa Ayu, 2005 : 32)
Kata “buruan” merupakan instruksi dari Nayla kepada Lidya tanpa tercampurnya emosi Nayla, karena tanggapan Lidya yang datar-datar saja menjawab Iya! (Maesa Ayu, 2005 : 33), dan pada awal percakapannya pun di awali dengan percakapan yang akrab dari teman kepada seorang teman terbukti dengan kutipan, Nayla: Lu tau Ben lagi deket sama cewek?  Lidya : Cewek yang mana, say? (Maesa Ayu, 2005 : 31)
Gaya mulia dan bertenaga:
Bagaimana  bagaimana perempuan bisa menikmati hubungan seksual jika sejak awal mereka sudah ditakut-takuti oleh mitos keperawanan? Sejak awla mereka sudah diodohi secara massal bahwa hubungan seksual di hari pertama sakitnya tak terkira akibat robeknyaselaput dara. Jika selaput dara robek, vagina mengeluarkan darah. Itulah ukti kesucian yang harus dijaga sampai tiba saatnya malam pertama. Padahala kenyataannya, banyak sekali perempuan yang vagionanya tidak mengeluarkan darah ketika pertama kali melakukan hubungan seksual. Bahkan banyak yang tidak merasakan sakit seperti informasi yang mereka terima. Selain itu, selaput dara tidak hanya robek akibat hubungan seksual. Hal-hal keceil seperti mengendarai sepeda atau menari ballet sekali pun bisa mengakibatkan selaput dara pecah. Tak heran masih banyak orang tua yang tidak setuju putrinya ikut les tari ballet, karena takut putrinya tak lagi suci di malam pengantin. (Maesa Ayu, 2005 : 78)
Gaya Menengah:
Setelah selesai membaca, tawa Juli meledak. Ia melebarkan tangannya siap memeluk Nayla. Nayla bersingkut dari tempat duduk menuju Juli. (Maesa Ayu, 2005 : 81)
c.       Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, yang dimaksud struktur kalimat di sini adalah kalimat agaimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut. (Keraf, 2010 : 124) Menurut saya pengarang (Djenar Maesa Ayu) menggunakan gaya bahasa klimaks, paralelisme, antitesis, repetisi anafora, dan repetisi simploke. Terbukti dengan kutipan:
Gaya Bahasa Klimaks, gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan –gagasan selanjutnya. (Keraf, 2010 : 214)
Kutipan: ... Apakah ia akan menusuki vagina saya tidak hanya dengan peniti namun dengan linggis? .... (Maesa Ayu, 2005 : 114)
Gaya Bahasa Paralelisme, gaya bahasa yang beruhasa mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. (Keraf, 2010 : 126)
Kutipan: ... Om Indra tidak hanya mengeluarkan ataupun mengesek-gesekkan penisnya ke tengkuk saya. Ia memasukan penisnya itu ke vagina saya. (Maesa Ayu, 2005 : 113)
Gaya Bahasa Antitesis, gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. (Keraf, 2010 : 126)
Kutipan: ... Tapi yang saya lihat di sekolah, anak lain banyak menampik sayur yang dibawakan ibunya, lantas sang Ibu malah menjajani mereka bakso atau pempek palembang. ... (Maesa Ayu, 2005 : 113)
Gaya Bahasa Repetisi Anafora, gaya bahasa perulangan bunyi kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya (Keraf, 2010 : 127)
Kutipan : Laki-laki juga menciptakan mitos agi kaumnya sendiri. Laki-laki yang bisa memuaskan perempuan, adlah laki-laki yang bisa bertahan berjam-jam. Laki-laki yang memiliki penis sebesar jaram. Laki-laki yang menguasai posisi puluhan. ... (Maesa Ayu, 2005 : 80)
Gaya Bahasa Repetisi Simploke, gaya bahasa perulangan bunyi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. (Keraf, 2010 : 128)
Kutipan: Because of you my life has changed, thank you for the love and the joy your bring. Because of you I feel no shame, I”d tell world it’s because of you. Because of you my life has changed, thank you for the love and the joy your bring. Because of you I feel no shame, I”d tell world it’s because of you. Because of you my life has changed, thank you for the love and the joy your bring. Because of you I feel no shame, I”d tell world it’s because of you. (Maesa Ayu, 2005 : 25)
Gaya Bahasa Repetisi Tautoteles, penrulangan bunyi atas sebuah kata berlurang dalam sebuah konstruksi. (Keraf, 2010 : 127)
Kutipan: “Menulis yang memilih saya, bukan saya yang memilih menjadi penulis.” (Maesa Ayu, 2005 : 119)
d.      Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. (Keraf, 2010 : 129) Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dibagi menjadi dua, yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.
Gaya Bahasa Retoris, yang semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untu mencapai efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidangn makna. (Keraf, 2010 : 2010) Menurut saya, pengarang (Djenar Maesa Ayu) dalam novel Nayla menggunakan:
Gaya Bahasa Retoris Aliterasi, semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama.  (Keraf, 2010 : 130)
Kutipan: ... Jadilah ia binatang, sementara pacarnya jadi pawang. (Maesa Ayu, 2005 : 40)
Gaya Bahasa Asonansi, semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyivokal yang sama. (Keraf, 2010 : 130)
Kutipan: ... Kalau dibujuk rayu, jadinya malah menindas melulu. ... (Maesa Ayu, 2005 : 40)
Gaya Bahasa Anastrof, adalah semacam gaya retoris yang diperoleh degan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. (Keraf, 2010 : 130)
Kutipan: ... Binatang yang rakus, ibu tinggal memasak atau menyediakan hidangan khusus. ... (Maesa Ayu : 20005 : 39)
Gaya Bahasa Apofasis atau Preterisio, gaya di mana penulis atau pengarang meneaskan sesuatu, tetapi tambaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tetapi sebenarnya memamerkannya.(Keraf, 2010 : 130)
Kutipan: Jika saja, ada keluarga yang mau berbesar hati menerima kealpaan mereka, lantas segera menempuh tindakan-tindakan semestinya, mulai dari tindakan hukum maupun terapi psikologi korban, apakah semua itu isa mengembalikan hidup koran seperti semula? Dan bagaimana pula dengan nasib para korban yang tidak mendapat dukungan dari keluarganya? (Maesa Ayu, 2005 : 86)
Gaya Bahasa Asindeton, gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, farasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungankan dengan kata sambung.  (Keraf, 2010 : 131)
Kutipan: ... Bahwasannya perempuan harus perawan, harus pandai mengatur keuangan, harus sabar, harus isa memasak, harus bisa memberi keturunan, harus pandai memuaskan suami di ranjang. (Maesa Ayu, 2005 : 85)
Gaya Bahasa Kiamus, gaya bahasa yang terdiri dari dua agian, baik frasa atau kalusa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu beralik bila diandingkan dengan frasa atau kalusa lainnya. (Keraf, 2010 : 132)
Kutipan: ... Ia ingin Ibu seperti ibu-ibu lain yang terkejut ketika anak kandungnya jatuh hingga terluka dan mengeluarkan darah, ukan sebaliknya membuat berdarah. (Maesa Ayu, 2005 : 2)
Gaya Bahasa Elipsis, gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga sturktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. (Keraf, 2010 : 132)
Kutipan: “Modal body tuh... paling juga udah diglir iar karyanya masuk koran.” (Maesa Ayu, 2005 : 160)
Gaya Bahasa Eufemismus, gaya bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. (Keraf, 2010 : 132)
Kutipan: Bung Radja, “DIRADJAKAN” Sebelum Berpulang (Maesa Ayu, 2005 : 127)
Gaya Bahasa  Tautologi, gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata lebih anyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan dan kata yang berleihan itu sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain. (Keraf, 2010 : 133)
Kutipan: Persoalannya tak hanya sebatas perbedaan alat kelamin. Tapi represi terhadap alat kelamin perempuan telah memuat mereka kesulitan mengenali tubuhnya sendiri. Persoalannya tak hanya sebatas perbedaan alat kelamin. Tapi mitos! (Maesa Ayu, 2005 : 78)
Gaya Bahasa Erotesis, semacam pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tuuan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendlaam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. (Keraf, 2010 : 134)
Kutipan: ... Kalian pikir aku tidak menderita? Kalian pikir aku bahagia? (Maesa Ayu, 2005 : 154)
Gaya Bahasa Koreksio atau Epanortosis, suatu gaya yang erwujud, mula-mula meneaskan sesuatu, tetapi kemudian memperaikinya. (Keraf, 2010 : 135)
Kutipan: “Gak tauk., gak ngitung. Seuluh orang kali.” (Maesa Ayu, 2005 : 83)
Gaya Bahasa Kiasan, dibentuk berdasarkan perandingan atau persamaa (Keraf, 2010 : 136) Menurut saya, berdasarkan gaya bahasa kiasan pengarang (Djenar Maesa Ayu) dalam novel Nayla menggunakan:
Gaya Bahasa Persamaan atau Silime, perbadingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perandingan secara esplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. (Keraf, 2010 : 138)
Kutipan: ... Harus pandai-pandai tarik ulur seperti main layang-layang. ... (Maesa Ayu, 2005 : 39)
Gaya Bahasa Metafora, semacam analogi yang memandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam entuk yang singkat. (Keraf, 2010 : 139)
Kutipan: ... Di mata Djenar, ibu tak ubahnya seorang pawang. ... (Maesa Ayu, 2005 : 39)
Gaya Bahasa Personifikasi, semaca gaya bahasa kiasan yang mengambarakan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. (Keraf, 2010 : 140)
Kutipan: ... Di luar hujan masih jatuh. ... (Maesa Ayu, 2005 : 38)
Gaya Bahasa Alusi, semacam acuan yang berusaha mensugestian kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. (Keraf, 2010 : 141)
Kutipan: “Ya ampuuuun... ya enggaklah, Mah, kamu kan bukan seleb kayak Tamara Geraldine, misalnya?! Gila kamu ya berlebihan amat! Kamu memang narsisi!” (Maesa Ayu, 2005 : 173)
Gaya Bahasa Eponim, suatu gaya di mana seorang yang namanya begitu seign dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. (Keraf, 2010 : 141)
Kutipan: ... Pasti Broto bilang lebih filosofis kalo dia baca. Seperti pahamnya Heraclitus... (Maesa Ayu, 2005 : 111)
Gaya Bahasa Sinekdoke (pras pro toto), semacam bahas figuratif yang memperunakan sebagian sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan. (Keraf, 2010 : 142)
Kutipan: ... Yang berkulit hitam, selain tidak kelebihan cairan, oto vaginanya pun lebih alot. ... (Maesa Ayu, 2005 : 79)
Gaya Bahasa Metonimia, gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. (Keraf, 2010 : 142)
Kutipan: ... Mereka memasukan tongkat madura ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual selama lima menit. ... (Maesa Ayu, 2005 : 79)
Gaya Bahasa Sinisme, ironi yang lebih kasar. Ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. (Keraf, 2010 : 143)
Kutipan: ... Eeeeh... gak taunya lu udah nangkring aja di situ kayak monyet sama itu cabo! ... (Maesa Ayu, 2005 : 150)
Gaya Bahasa Sarksme, merupakan acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme dapat saja bersifat ironis, atau juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. (Keraf, 2010 : 143)
Kutipan: “Eh, perek kecil! Temen kamu udah ngaku kalo itu senjata tajamnya dia. Jadi kamu jangan bohong!” (Maesa Ayu, 2005 : 73)
Gaya Bahasa Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan peraikan secara etis maupun estetis. (Keraf, 2010 : 144)
Kutipan: “Otak laki-laki memang kerdil. Senggama bagi mereka hanya berkisar di seputar kekuatan otot vagina, “ kata Juli. (Maesa Ayu, 2005 : 5)
Gaya Bahasa Inuendo, semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu. (Keraf, 2010 : 144)
Kutipan: ... Laki-laki yang tidak goblog. Laki-laki yang tak mencari cinta, pikir Nayla. (Maesa Ayu, 2005 : 144)
Gaya Bahasa Pun atau Paranomasia, kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetpai terdapat perbedaan besar dalam maknanya.
Kutipan: Mabuk. Itulah belahan jiwa Nayla. dan malam agi Nayla, adalah belahan jiwa mabuk. Mabuk kehidupan, maupun mabuk minumam, asal sama-sama mabuk. Asal sama-sama bukan mabuk cinta! ... (Maesa Ayu, 2005 : 142)

3.7 Titik Pengisahan
Dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Titik pengisahan yang dipergunakan oleh pengarang (Djenar Maesa Ayu);
Titik pengisahan sebagai pengamat biasanya ber “Ia” kepada tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, atau menyebut nama tokoh masing-masing. Titik pengisahan sebagai pengamat yaitu dengan cara titik pengisahan maha tahu, menceritakan segala hal yang terdapat dalam cerita. Dia dapat menceritakan semua tingkah laku apa yang dikerjakan, bahkan perasaan yang dalam dari para tokoh ciptaannya. (Sugianto Mas : 1998)
Terbukti dengan kutipan:
1.      Mata Nayla menatap tajam ke arah rangkaian peniti yang teronggok di atas meja tepat di depannya. Beberapa tahun lalu, Nayla masih gemetar setiap kali melihat rangkaian peniti itu. Ia akan terdiam cukup lama sebelum akhirnya terpaksa memilih satu. Itu pun harus dengan cara ditampar Ibu terlebih dahulu. Beberapa tahun lalu, Nayla masih gemetar ketika tangan Ibu menyalakan pematik lantas membakar peniti yang sudah dipilihnya. Peniti dengan ukuran kecil, tentunya. Dan ketika peniti yang menurut Ibu sudah steril itu ditusukkan ke selangkangannya, ia akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. Terisak. Meronta. Membuat Ibu semakin murka. (Maesa Ayu, 2005 : 1)
2.      Kegaduhan ini, tetap saja terasa sepi. Lampu warnaa-warni berpendar silih berganti seiring dengan suara musik yang menghentak seantero diskotek hingga lorong meuju kamar mandi. Para pelayan, bartender, dan pengunjung terlihat sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Tak ada yang terlalu peduli. Apalagi jika waktu sudah hampir menginjak dini hari. Hanya ada tawa yang mabuk. Hanya ada mabuk yang limung. Hanya ada limbung yang lupa. Hanya ada lupa yang sejenak membuat bahagia. (Maesa Ayu, 2005 : 3)
3.      Maka pagi itu, Nayla hanya bisa pasrah megikuti peraturan. Ia mengikuti anak-anak lain mencuci pakaian. Lalu mengelap, menyapu, dan mengepel lantai. Dua perempuan yang menjemputnya kemarin muncul dengan mengenakan seragam Polwan. Salam satu dari mereka berteriak mengejek Nayla.
“Anak-anak, pagi ini Nayla melantai...” (Maesa Ayu, 2005 : 15)
4.      Namanya Nayla. Teman-temanku sesama pemina tak ada yang suka dengannya. Mereka merasa Nayla sobong karena keluarganya terkenal dan kaya. Sudah seminggu ia di sini. Di kala senggang kerjanya hanya tertawa-tawa sendiri, memilin-milin ujung rambutnya, dan menggigiti ujung jari. (Maesa Ayu, 2005 : 18)
5.      Brengsek! Pikir Djenar. Kepalanya seperti dihantam godam. Di luar sudah tak jatuh lagi hujan. Satpam sudah tak lagi mengetukkan tongkat ke tiang listrik di jalanan. Suara lenguhan pacar Ibu sudah hilang. Tapi kantuk tak juga datang. (Maesa Ayu, 2005 : 40)
6.      Nayla resah. Tapi ia tak punya pilihan selain berserah. Ia baru sehari menjalani hidup mendiri. Hidupnya bergantung pada keetiga temannya ini. (Maesa Ayu, 2005 : 69)
7.      Luna bergegas keluar sambil membanting pintu. Diikuti oleh Maya, Yanti, dan Nayla. dengan santai Luna menyalakan rokoknya dan tersenyum manis ke arah polisi dan sopir taksi yang datang. (Maesa Ayu, 2005 : 72)
8.      “Mentang-mentang udah negrti enak, langsung deh ilmunya ditulis. Memangnya kamu sendiri lebih penting kualitas atau kuantitas?”
“Sama kamu?”
“Ya enggak, sama laki-laki.”
“Gak tauk!”
“Loh? Jadi kamu termasuk perempuan yang gak mengenali tubuhnya sendiri, dong?” (Maesa Ayu, 2005 : 81)
9.      “Ngetik melulu ah. Laper nih, Yang...”
“Ya makanlah. Tergantung amat sih!”
“Gak ada makanan, apa yang mau dimakan?”
“Ya beli dong... suruh aja pembantu!”
“Huh! Kamu nih gak pernah ngurus pacar. Gimana nanti kalo udah kawin?”
“Eeeee... memangnya siapa yang mau kawin?!”
“Aku yang mau. Tapi aku mau yanggggg....”
“Yang apaan?!”
“Yang kayak kamu.” (Maesa Ayu, 2005 : 87)
10.  ....
“Nah tuh... tuh... sifat jeleknya. Tukang ngadatnya. Aku udah terima. Gak pernah disiapin makanan juga aku terima.”
“Alaaaa.... tapi kan ngewek sama saya enak”
..... (Maesa Ayu, 2005 : 88)
11.  Ibu membisikkan sesuatu ke telinga Nayla. Katanya, laki-laki yang sedang berdansa itu adalah gigolo. Nayla tak mengerti apa artinya gigolo. Tapi ia pura-pura mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya. (Maesa Ayu, 2005 : 94)
12.  Juli limbung. Ia berjalan terhuyung. Terjatuh ke dalam pelukan Nayla yang baru datang. Nayla yang baru datang. Nayla yang bahagia. Nayla yag berpeluh dan membawa setangkai bunga. (Maesa Ayu, 2005 : 103)
13.  Padahal Nayla merasa ia yang harusnya kasihan kepada manusia-manusia goblog itu. Nayla tersinggung. Dihardiknya setiap orang yang memelototinya, juga orang-orang yang sekadar melirik. Diludahinya bahu orang-orang yang terlihat bergidik. Sampai satpam datang. Mengusirnya pulang. Teradi seperti itu berulang-ulang. (Maesa Ayu, 2005 : 143)
14.  Ben menatap Nayla dengan pandangan takpercaya. Tapi Nayla membalas tatapan Ben dengan pandangan lebih tak percaya. Mereka sama-sama menatap dengan pandangan tak percaya. Semakin meningkat rasa tak percaya mereka, semakin meningkat hasrat untuk berpisah segera. (Maesa Ayu, 2005 : 148)
15.  Tapi siapa yang peduli dengan Ben? Siapa yang peduli dengan Olin, Lidya, dan si Bencong yang tidak pernah membaca koran. Yang Nayla peduli adalah akhirnya cerita pendeknya duat, setelah bertahun-tahun mencoba mengirim dan ditolak. (Maesa Ayu, 2005 : 152)
16.  Belum ada siapa-siapa ketika Nayla sampai di kafe itu. Dalam hati Nayla menggerutu. Memang penyakit yang paling dibensi oleh Nayla dari teman-teman senimannya adalah tak pernah tepat waktu. dan Nayla paling tidak senang menunggu. (Maesa Ayu, 2005 : 157)
17.  Suara langkah Ayah dan Mbak Ratu makin sayup. Mata Nayla mulai mengatup. Kenangan tentang Ibu mulai meredup. (Maesa Ayu, 2005 : 169)
18.  “Huuuuh... ngelamuuuun terus. Kita mau langsung ke adegan Ibu dijemput pacarnya, atau mau pim piong ke adegan lain dulu? Perkosaan atau penyiksaan, misalnya.” (Maesa Ayu, 2005 : 172)
19.              Ia  termenung cukup lama. Roko di tangannya pun hanya dimain-mainkan tanpa diisapnya. (Maesa Ayu, 2005 : 176)
20.  Ia melangkah enuju pintu keluar tanpa melihat ke belakang. Entah kapan dan entah siapa salah satu dari mereka yang akan datang kembali, untuk pertemuan kedelapan. (Maesa Ayu, 2005 : 178)
Dan pengarang (Djenar Maesa Ayu) dalam novel Nayla menggunakan titik pengisahan sebagai tokoh, pengarang menempatkan dirinya sebagai “Aku” dalam rekaan yang dibuatnya. Seolah-olah dia berada langsung dalam cerita dan mengalami seluruh peritiwa yang ada. Djenar Maesa Ayu menggunakan titik pengisahan sebagai tokoh dengan cara titik  pengisahan sebagai bawahan, dia ber “Aku” dan meceritakan tokh lain, yaitu tokoh utama yang selalu diikuti oleh tokoh “Aku” tersebut. Dalam hal ini tokoh “Aku” tidak bisa menjelaskan perasaan tokoh utama, ia hanya menjelaskan tindakannya saja. (Sugianto Mas : 1998)
Terbukti dengan kutipan:
1.    Aku jadi serba salah. segala kebutuhan dicukupi malah keenakan. Tapi jika tak dicukupi, untuk apa aku susah-susah mencari nafkah? Aku benar=benar sudah kehabisan akal, anakku. Kuhukum kamu, tapi kami malah menantang. ... (Maesa Ayu, 2005 : 7)
2.    Aku kok ngerasa cerpenmu menurun temanmu masih yang itu-itu juga. Sepertinya kamu masih belum bisa berdamai dengan keadaan atau dirimu sendiri. Banyak tokohmu yang terkesan begitu juga. Jadi konfliknya gak ada penyelesaian. Dan memang kulihat kelemahanmu masih pada ending. Coba belajar sabar. Kalo ada ide diendapkan dulu. Pasti hasilnya bisa lebih baik. Selamat berkerya ya. (Maesa Ayu, 2005 : 45)
3.    Aku yakin, kamu pasti protes baca suratku. Kamu pasti marah besar. Tapi yang kutilis ini kenyataan. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Tapi aku bener-bener gak bisa terima semua ini. Besok kontrak kerjaku habis dan gak diperpanjang. Aku harus pulang. Aku bisa mati berdiri di Bandung kalau mikirin kamu gentayangan mabuk malam-malam. Berapa laki-laki yang bakalan kamu pelukin, ciumin, pangkuin. Di depan mataku aja kamu gak peduli. (Maesa Ayu, 2005 : 51)
4.    Bukannya aku tidak rindu, Nayla. bukannya aku tega. Aku ingin kamu belajar dari hidup. Aku pikir hidup sudah berpihak padaku. Hidup akhirnya memberimu karma sesuai dengan perbuatanmu kepadaku. Kamu ditinggal ayahmu. Seperti itulah rasa sakitnya ditinggal, Nayla. Seperti itulah rasa skitku. Dan kalau kamu sudah tahu rasa sakit itu, Nayla. kambalilah padaku. Kembali! Bukan menulis cerita pendek picisan begini! (Maesa Ayu, 2005 : 155)

3.8 Amanat
·      Amanat umum
Amanat umum yang dapat diambil dari novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah sebagai berikut:
1.      Jagalah komunikasi yang baik antara oang tua dan anak.
2.      Selaku orang tua janganlah mengeksklusifkan diri dengan anak.
3.      Senang, susah, bahagia, sedih, maupun yang lainnya diusahakan dikomunikasikan dengan orang tua.
4.      Orang tua diharapkan bisa lebih sabar dan lebih mengerti serta memahami keinginan anak, apa yang mejadi kebutuhan anak, keluhan anak, dan dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi anak dengan tindakan yang tidak melanggar agama, hukum, moral, dan hak azasi manusia.
5.      Mendidik anak harus disesuaikan dengan usia anak. Karena apabila cara mendidik yang kita aplikasikan kepada anak kurang tepat bak\hkan salah ditakutkan akan mengganggu psikologis anak, ketidak percayaan terhadap dirinya sendiri, kemunduran mental, depresi berat, frustasi, bahkan bisa menyebabkan tindakan menyimpang ataupun kriminal.
6.      Orang tua merupakan sosok pertama yang dijadikan contoh oleh anak. Jadi sebagai orang tua hendaklah bersifat dan bersikap baik, agar anak bisa meniru sifat dan sikap orang tua yang baik.
7.      Sebagai bangsa Indonesia dan selaku orang tua sejak dini mulailah mengenalkan budaya ketimuran yang diterapkan di Indonesia. Bukan bermaksud menutup diri dengan budaya barat yang masuk ke Indonesia, namun alangkah lebih arif lagi apabila kita selaku orang tua memfilternya terlebih dahulu agar tidak salah menerapkannya kepada anak.
8.      Sejak dini mulailah dekatkan anak pada aspek keagamaan. Setidaknya bukan hanya pelajaran tentang ilmu pengetahuan saja yang diperoleh anak dari sekolah, namun diluar sekolah pun orang tua sendiri atau mengikut sertakan anak dalam kegiatan keagamaan bahkan mendatangkan guru tentang keagamaan ke rumah. Agar anak mengetahui perilaku yang dianjurkan dan dlarang oleh agama.
9.      Sejak dini selaku orang tua mulailah mengajari anak berkomunikasi dengan baik dan benar. Artinya proses berkomunikasi dengan pengunaan bahasa bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi.   
10.  Selaku orang tua harus mengerti bahwa anak bukan hanya memerlukan kebutuhan yang sifatnya materi, namun anak juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan cinta.
·      Amanat Khusus
Amanat Khusus yang dapat diambil dari novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah sebagai berikut:
1.    Tentang Kesederhanaan
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       ... Biasanya, saya akan berjalan kaki menuju sekolah dan berbaur dengan anak-anak lainnya. Saya merasa lebih nyaman seperti itu ketimbang turun dar mobil mewah, tepat di depan gerbang sekolah. ... (Maesa Ayu, 2005 : 9)
2.    Tentang Kedisiplinan
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       Kalau kuikuti naluri pemalasmu berarti aku menjeruuskan darah dagingku sendiri. Selamanya kamu tak akan pernah mandiri. ... (Maesa Ayu, 2005 : 7)
b.      ... Ia mengikuti anak-anak lain mencuci pakaian. Lalu mengelap, menyapu, dan mengepel lantai. ... (Maesa Ayu, 2005 : 15)
c.       ... Setelah selesai menyetrika, saya diperbolehkan membaca atau menulis. ... (Maesa Ayu, 2005 : 21)
d.      Jam segini kok belum tidur? Gimana kamu isa ngatur orang kalau ngatur dirimu sendiri aja gak bisa. Tidur kurang. Ngerkok gak berhenti. Aku udah bilang berkali-kali, perempuan harus bisa rawat diri. Gimana mukamu gak keliatan tua, kult jadi kering, dan badan bengkak begitu? Bukannya cepet-cepet tidur, bangun pagi olah raga, malah begadang. (Maesa Ayu, 2005 : 40)
3.    Tentang Komunikasi yang baik
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       “Wah, maaf ya adik-adik. Kebetulan beliau sedang tak ada di rumah.” (Maesa Ayu, 2005 : 10)
Berujar disertai kata maaf merupakan salah satu contoh komunikasi yang sopan.
4.    Tentang Keagamaan
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       ... Mengambil air wudhu untuk shalat pagi. (Maesa Ayu, 2005 :14)
5.    Tentang Pengetahuan Menulis
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       ... Dan memang kuliat kelemahanmu masih pada ending. Coba sabar. Kalo ada ide diendapkan dulu. Pasti hasilnya bisa lebih baik. Selamat berkarya ya. (Maesa Ayu, 2005 : 45)
b.      ... Kamu butuh suasana yang “bergerak” untuk bahan tulisan”. ... (Maesa Ayu, 2005 : 52)
c.       ...
“Apa yang menjadi inspirasi Mbak ketika nulis?”
“Apa ya? Gak tentu. Saya pikir semua hal menjadi inspirasi saya. Saya punya pengalaman harafiyah dan non harafiyah sejak dilahirkan sampai detik ini. Referensi inilah yang saya tuangkan ke dalam tulisan.” (Maesa Ayu, 2005 : 116)
d.      ... Saya menulis untuk jujur. ....
... kalau dalam menulis pun saya masih harus berbohong, lebih baik saya tidak menulis.” (Maesa Ayu, 2005 : 121)
6.    Tentang Kesehatan
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       ... Saat itu kesadaran Juli mulai pulih setelah diberi minum Coca-Cola dengan garam oleh Nayla. ... (Maesa Ayu, 2005 : 61)
7.    Tentang Hidup
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       ... Seperti Ibu bilang, kita harus kuat jika ingin bertahan. ... (Maesa Ayu, 2005 : 55)
b.      ... Pada saat itu Nayla sadar kalau ia pasti bisa bertahan selama punya akal dan menta;. Selama ia masih bisa peka terhadap hal-hal yang dianggap tak berarti oleh keanyakan orang dan menjadikannya sebuah nilai. (Maesa Ayu, 2005 : 76)
c.       ... Bahwasannya perempuan harus perawan, harus pandai mengatur keuangan, harus sabar, harus bisa memasak, ... (Maesa Ayu, 2005 : 85)
d.      ... Berkarya adalah hidupnya. ... (Maesa Ayu, 2005 : 132)
8.    Tentang Pengetahuan Seksologi
Hal tersebut nampak dari bukti di bawah ini:
a.       ... Selain itu, selapu dara tidak hanya robekakibat hubungan seksual. Hal-hal kecil seperti mengendarai sepeda atau menari ballet sekali pun bisa mengakibatkan selaput dara pecah. ... (Maesa Ayu, 2005 : 79)
b.      ... Biasanya perempuan berkulit putih kelebihan cairan. ...
... Yang berkulit hitam, selain tidak kelebihan cairan, otot vaginanya pun lebih alot. ... (Maesa Ayu, 2005 : 79)
c.       ... Mereka merendam vagina ke daun sirih. ... (Maesa Ayu, 2005 : 79)
d.      ... Karena ketika vagina mereka berdua bergesekan, klitoris menerima rangsangan lewat gesekan itu. Maka terjadilah orgasme. Beberapa posisi senggama dengan laki-laki sering tidak memungkinkan klitoris mengalami pergesekan ini. Posisi-posisi semacam lotus dan doggy, membuat klitoris tak tersentuh. ... (Maesa Ayu, 2005 : 83)



BAB IV
SIMPULAN

Nilai adalah ukuran derajat tinggi-rendahnya atau kadar yang dapat diperhatikan, diteliti atau dihayati, dalam berbagai objek yang bersifat fisik (kongkrit) maupun abstrak. Nilai seni dan nilai estetis sangat sulit dibedakan da dipisahkan, karena keduanya menyangkut psikoloigis seni dan filsafat seni, dan ada di dalam “dunia” yang sama yaitu karya seni. (Dharsono dkk, 2004 : 20)
Menurut Abin, dinamika proses perilaku manusia dipandang dari segi motifnya setiap gerak perilaku mausia itu selalu mengandung tiga aspek, yang kedudukannya bertahap dan berurutan, yaitu;
1.      Motivating states (timbulnya kekuatab dan terjadinta kesiapsediaan sebagai akibat terasanya kebutuhan karingan atau sekresi, hormonal dalam diri organisme atau karena terangsang oleh stimulasi tertentu).
2.      Motivated behavior (bergeraknya organisme kea rah tujuan tertentu sesuai dengan sifat kebutuhan yang hendak dipenuhi dan dipuaskannya, misalnya lapar cari makan dan memakannya). Dengan demikian, setiap perilaku pada hakikatnta bersfat instrumental (sadar atau tidak sadar).
3.      Satisfied conditions (dengan berhasilnya dicapai tujuan yang dapat memenuhi dalam diri kebutuhan yang terasa, maka keseimbangan dalam diri organisme pulih kembali ialah terpeliharanyam homeostatis, kondisi demikian dihayati sebagai rasa nikmat dan puas atau lega). Namun, di dalam kenyataannya, tidak selamanya kondisi pada tahap ketiga itu dmeikian, bahkan mungkin sebaliknya. Ialah terjadinya ketegangan yang memuncak kalau insentifnya tidak tercapai, sehingga menyebabkan invidu merasa kecewa.
Bahasa itu langage (bahasa umumnya yang bersifat astrak), langue (bahasa tertentu yang bersifat abstrak), dan parole (bahasa sebagai tuturan yang bersifat konkret). Objek kajian linguistik adalah langue sedangkan ojek kajian psikologi adalah parole. Ini berarti, kalau ingin mengaji bahasa secara lengkap, maka kedua disiplin ilmu, yakni linguistik dan psikologi harus digunakan. Karena segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis. (Ferdinand de Saussure : 1858-1913 (dalam Chaer, 2009 : 13))
Novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu, merupakan salah satu contoh karya prosa fiksi. Sebagian orang beranggapan bahwa karya Djenar ini merupakan karya sasrta selangkangan. Karena isinya berkutat dengan permasalahan seks. Dan ada yang beranggapan bahwa Nayla-Djenar Maesa Ayu itu tak ubahnya seperti tulisan-tulisan Fredi. Walaupun saya sendiri selaku pembaca belum pernah membaca tulisan-tulisan Fredi. Sebagian menganggap Djenar mempunyai nilai lebih dari Fredi karena dia berani mengakui karyanya, identitasnya sebagi penulis atau pengarangnya jelas. Namun menurut saya asumsi demikian tolong dikaji lagi, yang menyatakan bahwasanya karya Djenar merupakan sastra selangkangan.
Saya kurang, atau bahkan dapat dikatakan tidak setuju bahwa Djenar merupakan sastra selangkangan dan tak ubahnya seperti Fredi ataupun cerita seks online. Bagi saya, Djenar Maesa Ayu dalam novel Nayla menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Bisa dibuktikan dari segi alur yang menggunakan alur sorot balik. Walaupun alur sorot balik sebelumnya sudah pernah ada yang menggunakan, namun sorot balik yang digunakan oleh Djenar itu sebuah racikan tulisan yang berbeda. Kalau pembaca tidak berapresiasi serius untuk mengenal novel ini mungkin akan kesulitan memahami isi dan maksud dari novel ini.
Permasalahan seks merupakan permasalahan yang tidak bisa dilupakan atau bahkan diabaikan oleh semua orang. Karena seks merupakan bagian dari hidup. Dan hidup juga menurut pendapat saya berasal dari seks. Yang menjadi permasalahan bagaimana cara pandang kita terhadap seks tersebut. Bagi saya, Djenar telah melakukan pertimbangan dengan focus perhatian aspek masyarakat. Dapat dibuktikan dengan jilid kaper novel yang memuat peringatan bahwasannya novel ini untuk pembaca dewasa. Namun memag terkadang atau bahkan sebagian besar orang Indonesia hanya menyimpulkan apa yang tampak di depam mata secara kasat mata. Kita sebagai penikmat sastra yang lebih mungkin diwajibkan tidak melihat sebuha karya hanya dengan pandangan kasat mata. Belajar menghargai dan mengapresiasi lebih serta memikirkan lebih tentang karya orang lain haruslah dijadikan agenda wajib. Coba ketika melihat huruf “A” itu jangan hanya menyimpulka huruf “A” saja. Tetapi mari belajar memikirkan ada apa dibalik huruf “A” itu. Di dalam sesuatu yang dianggap buruk itu pasti ada sebuah nilai yang baik yang dapat kita ambil. Dan belum tentu di balik yang bagus atau indah itu kita selamatnya akan mendapatkan indah atau bagus. Tidak akan dikatakan bagus kalau tidak ada yang tidak bagus. Tidak akan dikatakan baik kalau tidak ada yang buruk. Semua saling melengkapi. Saling menghargai. Saling berapresiasi merupakan salah satu awal langkah kita dalam bersikap bijak.
Novel ini memang secara isi tidak cocok dibaca oleh orang yang usianya belum memadai. Bukan hanya factor usia, fakor pengetahuan pun berpengaruh besar. Orang yang cenderung ekslusif terhadap dirinya akan asumsi yang miring maka tidak akan mendapatkan nilai yang baik dalam novel ini. Namun karena manusia itu makhluk yang sempurna diberi kelebihan akal dan pikiran, maka gunakanlah akal dan pikiran itu secara optimal.
Nilai-nilai yang dapt kita petik dair novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu ini, diantaranya:
1.      Sebagai orang tua haruslah pandai-pandai menghadapi anak. Menghadapi di sini artinya mengayomi anak. Mengerti tentang apa yang sedang dirasakan anak, baik senang ataupun sedih. Sehingga peendekatan maupun metode untuk menghadapi anak bisa tepat. Selaku orang tua harus mengenali anaknya.
2.      Tidaklah dibenarkan secara hukum Negara ataupun hukum agama ketika menggunakan mirasantika, hukuman penjara atau denda akan diterimanya dan hukuman diakhirat oleh Allah SWT atas apa yang diperbuatnya di dunia akan diberikan setelah mati.
3.      Ketika mengenal budaya luar maka sikap yang bijak itu memilah-milah terlebih dahulu. Artinya dengan penggunaan kerja akal dan pikiran serta hati kita bisa menyaringnya terlebih dahulu. Mana yang baik dan mana yang buruk, dan fokus yang menjadi bahan pertimbangan adalah diri sendiri, orang lain, serta Tuhan.
4.      Sebuah rasa kasih sayang bukan hanya didapatkan dengan materi saja. Batin pun dapat merasakan lapar, dan tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Apalagi ini menyangkut dengan kebutuhan batin anak yang usia dibawah umur dan masa-masanya pubertas. Anak membutuhkan perhatian yang intens dan khusus.
5.      Empati (einfuhlung dalam bahasa Jerman) merupakan pegalaman dalam peleburan perasaan (emosi) pengamat terhadap benda seni. Dengan peleburan perasaannya secara mendalam berakibat pada jiwa (secara psikis) dan terhanyut dalam kualita itrinsik dan ekstrinsik seni. (Dharsono dkk, 2004 : 88) Rasa empati yang saya rasakan setelah membaca novel Djenar Maesa Ayu dengan Judul Naya. Empati saya untuk semua tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Empati saya terhadap isme yang diangkat, dan isme yang berkembang di masyarakat dalam novel tersebut. Empati saya untuk diri sendiri karena ketika melihat kenyataan memang benar adanya, saya pun terkadang masih merasa kurang etis dan estetis menyikapi kehidupan dalam hidup. Setelah saya memaca novel ini saya ingin belajar bagaimana menghargai lagi perempuan dan ingin belajar berkomunikasi baik disemua kalangan dan tingkatan interaksi sosial.
6.      Ada pepatah mengatakan “jika kita berteman dengan seorang pedagang minyak wangi, maka kita akan terbawa wangi, dan jika kita berteman dengan pandai besi maka kita akan terkena percikan besinya.” Lingkungan informal bersifat alami atau natural, tidak dibuat-buat. Yang termasuk lingkungan informal ini antara lain bahasa yang digunakan kawan-kawan sebaya, bahasa pengasuh atau orang tua, bahasa yang digunakan elompok etnis pemelajar, yan digunakan media massa, bahasa para guru, baik di luar atau di dalam kelas. Secara umum dapat dikatakan lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap hasil belajar bahasa kedua para pembelajar. (Chaer, 2009 : 160)
7.      Menulis itu untuk Jujur.

DAFTAR PUSTAKA

Calzoum, Sutardji Bachrie. 2002. O Amuk Kapak. Jakarta: Yayasan Obor dan Majalah Horison.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Davidson, Gerald C dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Dharsono, dkk. 2004. Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.
Faruk. 2010. Pengantar Sosiolgi Sastar: Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Maesa, Djenar Ayu. 2005. Nayla. Jakarta: Ikrar Mandiriabadi.
Makmun, Abin Syamsuddin. 2009. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosdakarya Offset.
Pradopo. Rachmat Djoko. 2010. Pengkajian PUISI. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS.
Sugianto Mas, Aan. 1998. Kajian Prosa Fiksi. Kuningan. Universitas Kuningan.
Sugianto Mas, Aan. 1998. Langkah Awal Menuju Apresiasi Sastra. Kuningan. Universitas Kuningan.





Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "ANALISIS INTRINSIK NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU"